Feriansyach

Dimensi warga negara bukan hanya Hukum dan Politik, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan sebagai warga negara (Feriyansyah)

Warga Negara Digital

Warga Negara Digital Melahirkan Budaya Kewarganegaraan Baru (Feriyansyah)
 
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan Sosial. Tampilkan semua postingan

Fenomena Kelemahkarsaan Masyarakat Indonesia

Selasa, 12 Januari 2016



Oleh 

Feriyansyah

Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal dan obsesi agar dapat mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik dimasa depan. Manusia terus belajar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan  keahlian yang dimiliki untuk menciptakan teknologi. Teknologi ini bertujuan mempermudah pekerjaan manusia dalam mencapai kejayaan dalam hidup.  Dengan teknologi ini manusia dapat memaksimalkan hasil dari pekerjaannya.
Untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dimasa depan, manusia wajib memiliki karsa yang kuat dalam dirinya.  Karsa dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai  daya kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak (kehendak/niat). Sehingga karsa menjadi sumber energi bagi manusia dalam bertindak ataupun berkehendak. karsa juga menjadi stimulus bagi manusia dalam membangun suatu peradaban yaitu peradaban Indonesia.
Saat ini tengah terjadi fenomena Kelemahkarsaan Masyarakat Indonesia. Kelemahkarsaan masyrakat Indonesia terlihat dari berbagai fenomena yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia, contohnya : seperti hidup santai, tidak gigih bekerja, malas belajar, ketidak tertiban bahkan sampai fenomena ingin cepat kaya tanpa bekerja sehingga terjadinya Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Hal ini yang memberikan kesan bahwa masyarakat kita tidak memiliki etos kerja yang tinggi. Myrdal mengatakan kelamahkarsaan sebagai soft culture atau dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai kurang gigih bekerja.
Fenomena Kelemahkarsaan pada suatu masyarakat dapat dipengaruhi oleh faktor alam dan lingkungan masyarakat tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan Arnold Toynbetentang repon manusia terhadap kondisi alam lingkungannya.  Challenge (tantangan dari alam) dan Respon (dari Manusia). Toynbe mengatakan “apabila challenge dari alam itu terlalu tinggi maka respon dari manusianya akan kecil. kemudian, apabila challenge dari alam terlalu kecil maka respon dari manusia akan kecil. Terkahir apabila Chalenge dari alam sedang maka respon manusianya akan besar.  Dari apa yang dikatakan Toynbe maka Indonesia masuk dibagian mana?
Menurut penulis Indonesia masuk dalam tipe yang kedua yaitu “challenge” dari alam Indonesia sangat kecil karena Sumber Daya Alam Indonesia sangat memanjakan masyarakat Indonesia, sehingga orang-orang Indonesia cukup dimanjakan oleh kondisi alam. Sebagai contoh dari berbagai kasus kurang gizi yang terjadi karena masyrakat Indonesia tidak mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya untuk memenuhi kebutuhan gizi. Contoh : dalam kasus mal nutrisi (kasus susu yang mahal) bayi Indonesia kekurangan gizi karena orang tua mereka tidak mampu membeli susu bayi. Padahal orang tua mereka memiliki hewan ternak berupa sapi atau kambing. tetapi karena ketidaktahuan ditambah dengan kelemahkarsaan kita tidak mau memerah susu sapi atau kambing utntuk diberikan kepad bayi kita. Padahal susu hewan baik itu kambing dan sapi mengandung gizi dan nutrisi yang sangat dibutuhkan bayi dalam masa pertumbuhan.   
Sebagaimana dikatakan Toynbe Pemanjaan dari Alam ini yang  membuat reposn dari orang Indonesia kecil. Respon ini dapat berupa kegigihan dalam memenuhi kebutuhan, mengembangkan  kemampuan dan pengetahuan untuk mengelola Sumber Daya Alam (potensi). Contoh yang lain seperti anak-anak di pesisir yang cukup mencari kepiting di sekitar lingkungan atau desanya untuk mendapatkan uang. Kalau kita asumsikan dia mendapat tiga ekor kepiting kemudian di jual sudah cukup untuk membeli sesuatu yang dia inginkan sehingga muncul bahwa tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Hal ini berdampak juga dengan kegigihan belajar disekolah karena dia merasa tidak butuh ilmu yang disekolah karena dengan mencari kepiting sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan.

Sifat-sifat Kelemahkarsaan
Kelemah-karsaan memiliki beberapa sifat-sifat yang dapat kita lihat yang muncul dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. diantara sifat-sfat itu adalah sebagai berikut :


Tidak memiliki sifat Strive for exelent
Strive for Exelent dapat diartikan sebagai usaha/ kerja keras untuk mencapai sebuah kesempurnaan. Sifat ini menunjukkan bahwa masyarakaT yang lemah karsa tidak memiliki ambisi untuk mencapai kesempurnaan dalam mengerjakan sesuatu. Sehingga hasil kerja hanya untuk memnuhi syarat saja tetapi tidak berusaha dan bekerja keras untuk mencapai hasil kerja yang memuaskan.
Hidup dalam suasana santai
Karena alam masih memanjakan masyarkat tersebut sehingga masyarakat tersebut hidup dalam suasana santai. Tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Cukup memberdayakan apa yang ada tanpa ada usaha lebih untuk mengembangkan. Sehingga hidup dalam suasana santai tidak gigih dalam bekerja sehingga terus dilenakan oleh waktu.
Tidak memiliki Growth Phloshopy
Sifat ni memberikan contoh bahwa masyarakat yang lemah karsa tidak mengetahui hakikat hidupnya dan berdapak terhadap visi dalam hidup sehingga hdup dalam keadaan yang apa adanya yang penting cukup untuk makan, malas belajar, tidak kreatif hanya menerima sesuatu yang terjadi.
Cepat menyerah
Dalam masyarakt yang lemah karsa juga ditandai dengan munculnya sifat Cepat Menyerah. Sifat cepat menyerah ini sangat berbahaya ketika sudah muncul dalam masyarakat karena pasti akan menimbulkan sikap pesismis tidak mau belajar dari kegagalan.  Sehingga masyarakat tersebut tidak memiliki daya juang yang tinggi.
Lamban
Kita coba perhatikan bagaimana orang-orang jepang berjalan, Orang Jepang itu berjalan cepat karena dia tidak mau lamban atau menghabiska waktu dengan sia-sia. Mereka akan memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan seoptimal mungkin. Sehingga hal ini nampak dari gaya berjalan orang jepang yang buru-buru malu untuk terlambat ke tempat kerja, kesekoah dan berjanji dengan orang lain.  Cepat bukan berarti percepatan tetapi berkembang sesuai dengan waktunya sehingga optimal.
Selalu di ombang-ambingkan oleh faktor eksternal
Manusia sagat dipengaruhi oleh lingkungannya dapat dikatakan manusia merupakan perwujudan dari lingkungan hidupnya. Masyarakat yang lemah karsa dapat dengan mudah dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang dapat mengecoh tujuan hidupnya sehingga tidak fokus untuk menggapainya. Keteguhan hati tidak mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat mengecoh tujuan dar hidupnya.
Berpaling keakhirat
Sifat yang terakhir yang dapat dilihat dari masyarakat yang lemah karsa bahwa masyarakat tersebut berpaling ke akhirat. Jadi orientasi hidup tidak seimbang antara beribadah dan bekerja sehingga masyarakat yang lemah karsa antara ikhtiar dan doa tidak seimbang. Mengakibatkan munculnya ikhtiar yang hanya sekedarnya saja tanpa ada motivasi bahwa bekerja juga dalam rangka beribadah kepada Tuhan.
Penutup
Kelemahkarsaan bukan merupakan sebuah sifat yang diturunkan secara genetik. Sehingga kelemahkarsaan ini bisa diatasi dengan “character Building” . sehingga menjadi suatu keharusan kita keluar dari zona nyaman kita untuk berjuang lebih keras untuk mencapai hal yang lebih besar. Ketika kelemahkarsaan bisa dihilangkan dari dalam diri orang Indonesia, maka Indonesia akan mencapai masa kejayaan sehingga masyarakat Indonesia menuju Perdaban Indonesia.

Penulis merupakan Dosen Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan (FIP Unimed)

The Writer is a Lacterer at Education Science Faculty in The  State University of  Medan 







DALIL : Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Minggu, 25 Oktober 2015

DALIL : 
Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Diterjemahkan dari Artikel Addressing Religious Diversity Through Children’s Literature: An “English as a Foreign Language” Classroom in Israel 
karya : Rawia Hayik (Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Keantarbudayaan
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si.

Oleh 
Silvia Rahmelia 
Mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana 
Universitas Pendidikan Indonesia 

  1. Identitas Jurnal
  • Journal of Multicultural Education
  • Vol.17 No.2 hlm.92-106
  • Copyright © 2015
  • Founded&Published by Eastern University Co-Sponsored by Yonsei University
  • Terindeks Scopus dengan keterangan Q2 (Kualifikasi Baik dari indeks Q1-Q4) menurut sumber scimagojr.com
  • ISSN 1934-5267

  1. Identitas Artikel
  • Judul : Addressing Religious Diversity Through Children’s Literature: An “English as a Foreign Language” Classroom in Israel
  • Oleh : Rawia Hayik (Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel)

  1. Pengantar
Artikel dalam jurnal Pendidikan Multikultur ini memunculkan permasalahan antar dua kelompok agama di Israel, yaitu Muslim dan Kristiani. Menurut penulis sekaligus peneliti, temuan penelitian dan fakta yang terkandung dalam artikel ini tidak dapat digeneralisasikan ke dalam situasi politik yang sedang terjadi di Israel. Meskipun memang demikian adanya, penelitian ini secara spesifik membahas salah satu tema dalam Pendidikan Multikultur, yakni ‘strategi pembelajaran yang tidak diskriminatif’.
Sebuah filosofi dalam Pendidikan Multikulturalisme condong kepada perbedaan ras, kultur, gender, dan kesederajatan bagi penyandang disabilitas. Namun bukan hanya itu, budaya mesti dipahami secara luas termasuk koeksidensi antara agama dikarenakan konflik wilayah. Hal ini termasuk pada kajian Pendidikan Multikultural atau Pendidikan Keantarbudayaan karena mencermati keadaan bahwa semakin hari setiap orang dituntut untuk sadar bahwa keberagaman mesti ditanggapi secara positif. Kesederajatan harus pula mencerminkan apresiasi yang sama terhadap manusia.
Pada akhirnya keanekaragaman yang berakar pada perbedaan tetap harus menciptakan kedamaian. Diawali dengan mengidentifikasi persamaan yang ada, maka permasalahan kemajemukan bisa diatasi. Seperti dibahas dalam artikel ini, Rawa Hayik sebagai guru mencermati kesamaan siswa tentang keharusan mempelajari Bahasa Inggris dan mencoba menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian melalui slogan.

 Dalil 
1. Apabila persoalan perbedaan agama terus tercermin dalam pertentangan,  maka anak-anak selamanya tidak akan paham arti perdamaian.

2. Jika perbedaan ritual keagamaan merefleksikan ketentraman, maka berbeda agama  bukanlah perang
3. Apabila pemisahan demografis tetap ada, keberagamanakan tetap tabu adanya.
4. Jika berangkat dari persamaan,  maka perbedaan akan bertransformasi  menjadi sesuatu  yang komplementer.
5. Apabila anak belajar memahami perbedaan agama,  ia akan bertindak peduli dan toleran.




















Mencabut Akar Kemiskinan, Menanam Karakter Keluhuran: Peran IPS

Kamis, 03 September 2015


Oleh Silvia Rahmelia*)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan manusia pada konsep-konsep teori terbarukan. Relevan dengan perkembangan zaman, konsep-konsep yang terbangun dalam teori baru semakin canggih dan secara otomatis menyebabkan teori-teori yang telah lama ada menjadi terbantahkan.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai bagian dari pohon ilmu yang bercabang dari filsafat, beriringan dengan ilmu alam dan ilmu humaniora, memiliki bidang kajian serta keilmuan tersendiri. Baik itu meliputi ciri-ciri spesifik layaknya aspek ontologi, epistimologi dan aksiologi-nya masing-masing maupun dalam output sudut pandang pemahaman terhadap suatu permasalahan sosial.
Colhoun memberi batasan mengenai definisi Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Science), yaitu:
“Social science is the study of the group behavior of families, factories churches, communities, nation, and other groups. It is also concerned with the behavior of individual people insofar as the influenced by their belonging to group.”
Maka dapat diartikan bahwa IPS ini merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi dalam suatu kelompok serta pengaruh yang ditimbulkan dari interaksi itu. Menindaklanjuti perkembangannya, bahwa para ilmuwan sosial tampak setuju dan menganggap perlu untuk mengkaji tentang berbagai cara manusia sosial berinteraksi. Karena tak dapat dipungkiri bahwa dalam kenyataannya manusia sosial itu merupakan suatu kompleksitas yang memiliki hakekat ‘multidimensional’. Sama halnya dalam struktur kajian IPS sendiri yang cenderung multidimensional.
IPS memiliki makna yang sangat luas sebagai akibat penggunaan istilah manusia sosial. Maka dalam rumpun ilmunya pun dibagi-bagi untuk memperjelas bidang kajian serta untuk tujuan efektifitas dan karakter yang spesifikatif. Djaldjoeni mengungkapkan bahwa dalam mengkaji tentang manusia, IPS menggunakan ilmu politik, ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan IPS adalah ilmu yang diorganisasikan secara sistematis dan dibangun melalui penyelidikan ilmiah dan direncanakan.
Selain dari corak keilmuannya yang universal, karakteristik objek kajian IPS yang bisa dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin secara integratif menjadikan IPS dapat difungsikan untuk telaah masalah sosial budaya yang hakikatnya kompleks. Ciri dari pendekatan interdisipliner yang memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu ini memudahkan IPS untuk dijadikan dasar pengembangan upaya-upaya penanggulangan masalah-masalah sosial.
Mengkaji Masalah Kemiskinan
Mengambil sampel ‘kemiskinan’ sebagai salah satu topik permasalahan sosial, disadari betul bahwa isu kemiskinan dan ketidakmerataan ini mempunyai dampak negatif atas pembangunan dan integrasi nasional. Kemiskinan ini merupakan permasalahan sosial yang tidak mudah untuk ditanggulangi. Bahkan pemerintah sejak dekade 1990-an memunculkan kembali program pengentasan kemiskinan dan ketidakmerataan sebagai salah satu isu sentral dari perspektif pembangunan nasional. Ini menjadi bukti belum tuntasnya penanggulangan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah tahun ke tahun.
Ketika mengkomparasikan pengentasan kemiskinan pada dekade 1990-an dengan keadaan sekarang ini, tidak banyak perubahan yang bisa dibanggakan. Salah satu buktinya, hingga sekarang bagian timur wilayah Indonesia masih belum dapat merasakan kemerataan dalam distribusi hampir dalam segala aspek dan kebutuhan. Hal itu bukan terjadi sekarang-sekarang, tetapi sejak dulu. Meski memang mungkin terdapat sedikit kemajuan dalam hal swadaya pangan di wilayah timur sana, tetap saja kemiskinan masih melekat bahkan menjadi identitas yang kontradiktif dari ‘kekayaan’ sumber daya ketimuran yang dimilikinya.
Pada dasarnya keberhasilan program pengentasan kemiskinan, sama seperti program pembangunan yang lain, terletak pada identifikasi akurat terhadap wilayah yang diindikasikan masuk dalam klasifikasi ‘miskin’. Dalam hal ini Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai disiplin ilmu dengan pendekatan interdisiplinernya mendapat ‘porsi’ untuk mengidentifikasi permasalahan kemiskinan dari beberapa sudut pandang keilmuan yang berbeda-beda dalam satu rumpun.


Dimulai dari analisis formulasi kebijaksanaan tadi, yaitu mengidentifikasi siapa yang miskin dan di mana mereka berada. Pertanyaan ini dijawab dengan beberapa pertimbangan berdasarkan objek
kajian ilmu masing-masing.

Masalah kemiskinan dapat dikaji melalui beberapa bidang ilmu yang serumpun dalam IPS.
 


1.                Sudut Pandang Ilmu Politik
Dari kacamata ilmu politik, aspek yang menjadi fokus penelitian ialah mengenai evaluasi kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan kemiskinan serta implementasi daripada aturan-aturan atau kebijakan yang sudah ada. Selain itu dibahas pula mengenai hal ihwal penguasa atau dalam ketatanegaraan kita ialah Presiden beserta jajarannya, dalam menanggulangi permasalahan kemiskinan. Bagaimana kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah dapat memfasilitasi dalam upaya penanggulangan masalah kemiskinan.
2.                Sudut Pandang Ilmu Antropologi
Dari kacamata antropologi, bisa dirumuskan mengenai keterkaitan kemiskinan dengan perilaku manusia yang didasarkan pada studi atas semua aspek biologis manusia dan perilakunya di masyarakat. Dengan mengetahui pola perilaku manusia ini, diharapkan dapat menentukan arah dari upaya yang tepat dalam penanggulangan kemiskinan, sesuai tata pergaulan di masyarakat.
3.                    Sudut Pandang Ilmu Sosiologi
Pada rumpun ilmu Sosiologi, kemiskinan ini bisa dianalisis dari elemen norma, tradisi, keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Misalnya saja mengkaji dari rumusan masalah ‘sejauh mana internalisasi nilai dan norma kemasyarakatan terimplementasikan, hingga menimbulkan cerminan perilaku malas berusaha dan terindikasi menjadi  akar dari kemiskinan?’.
4.                  Sudut Pandang Ilmu Ekonomi
Kemudian dalam bidang ekonomi, sudah jelas bahwasannya kemiskinan ini disebabkan oleh ketidakmerataan distribusi kebutuhan pokok. Selain itu terbatasnya lapangan pekerjaan sebagai akibat tingkat pendidikan yang rendah, yang dimiliki masyarakat, sehingga penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan yang beranjak meningkat.
Salah satu gagasan solutif bisa melalui fungsionalisasi sumber daya yang ada di masyarakat secara swadaya. Akomodasinya dengan menghidupkan usaha-usaha kecil dibantu modal koperasi diiringi dengan bimbingan pengelolaan sistem manajerial secara bertahap.
5.                  Sudut Pandang Ilmu Geografi
Dalam kacamata geografi, kemiskinan ini dapat ditelaah dari segi wawasan dalam ruang dan persepsi relasi antargejala. Geografi yang berisikan pemahaman akan orientasi bumi sebagai tempat tinggal, proyeksinya meliputi semua unsur ruang yaitu arah, jarak, luas, dan bentuk. Kemudian ditambah pengamatan dan pemahaman hubungan antargejala yang terdapat dalam suatu bentang alam. Kemiskinan yang terkotak-kotak di satu wilayah terpencil dan terisolir bisa ditanggulangi dengan mengakar pada konten keilmuan geografi.
6.                Sudut Pandang Ilmu Sejarah
Sementara itu dalam ilmu sejarah, berangkat dari sifat ilmunya sendiri bahwa sejarah pada dasarnya melekat pada tiap benda, tiap mahluk, baik yang hidup dan tidak hidup, tiap fenomena di alam raya ini. Dimensi kesejarahan menuntut manusia untuk selalu melakukan pembaharuan dan berupaya mencapai kemajuan. Dengan sejarah, manusia menjadi tahu dan mengenal siapa diri mereka dan bagaimana mereka sekarang ini.
Kemiskinan sebagai salah satu aspek permasalahan sosial memiliki dimensi proses, peristiwa dan waktu. Dari pengalaman-pengalaman yang telah ada sebelumnya, manusia dapat belajar untuk mengembangkan diri dengan mengupayakan usaha-usaha maksimal. Serta dengan belajar dari proses perubahan dari peristiwa-peristiwa terdahulu untuk mengupayakan penanggulangan masalah kemiskinan ini.
            Objek kajian yang juga tampak bersinggungan dengan permasalahan kemiskinan ini ialah bidang ilmu Psikologi Sosial. Psikologi Sosial ini merupakan satu irisan disiplin ilmu yang terbilang baru dalam rumpun ilmu sosial. Bidang ini mengkaji tentang tingkah laku manusia dalam mengatasi fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosial.
            Dengan adanya Psikologi Sosial ini masyarakat mampu menilai dan memprediksi tingkah laku dalam kehidupan sosial. Masyarakat dapat membentuk pribadi melalui refleksi atas lingkungannya dengan lingkungan lain. Dari pengetahuan akan tingkah laku manusia, kemiskinan dapat semakin jelas terbaca akar permasalahannya. Dengan menggabungkan seluruh sudut pandang dalam rumpun ilmu sosial, permasalahan sosial ini dapat terselesaikan dengan tahapan-tahapan yang sistematis, profesional, dan terintegrasi.
Pendidikan Kewarganegaraan dalam IPS
            Selain dari pada perannya dalam mengentaskan masalah-masalah sosial, IPS ini begitu unik sekaligus kompleks. IPS memiliki tugas berat untuk mempersiapkan dan mendidik individu untuk hidup dengan keseimbangan pemahaman antara ikatan inter dan intrapersonalnya. IPS memerankan peran signifikan dalam mengarahkan dan membimbing manusia Indonesia agar memiliki nilai-nilai dan perilaku demokratis, memahami dan peka terhadap permasalahan sosial di lingkungan sekitar, memahami dan bertanggungjawab terhadap tugasnya sebagai bagian dari masyarakat global yang interdependen.
            Salah satu misi IPS adalah mentransmisikan nilai-nilai keluhuran yang telah menjadi warisan budaya bangsa dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai ini bukan hanya dibelajarkan saja, akan tetapi lebih jauh lagi diharapkan dapat memfasilitasi individu terutama peserta didik untuk memahami, menganalisis, dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut hingga akhirnya peserta didik menjadi individu yang utuh.
            Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah bagian dari batang tubuh ilmu sosial, lebih tepatnya ilmu politik. Ilmu politik ini lebih lanjut memiliki satu objek kajian khusus, yaitu bidang Demokrasi Politik. Sejalan dengan perkembangan kehidupan politik dan ketatanegaraan Indonesia, menurut Azis Wahab (2006), peran Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) ialah untuk menghasilkan karakter warganegara yang baik (to be smart and good citizen). Dengan berkembangnya konten dari Ilmu Pengetahuan Sosial, secara otomatis memperluas objek kajian dari Social Studies sendiri. Sifat dari IPS sendiri bersinggungan erat dengan Pendidikan Kewarganegaraan yang notabene mengemban tugas sebagai pencetak karakter manusia Indonesia.
            Lalu bagaimana cara PKn dengan nafas sosialnya, ikut serta memecahkan permasalahan sosial yang ada dan mengembalikan lagi harkat martabat bangsa Indonesia yang berbudaya luhur?
            Secara sistematis dan konseptual, berawal dari tahap pemahaman, individu mengetahui dan memahami nilai moral yang semestinya diterapkan dalam interaksi sosial. Beranjak ke tahapan penghayatan, setelah itu individu mulai memiliki kecenderungan bersikap, sehingga sampai pada tindakan moral dalam bentuk interaksi sosial yang positif. Tentu disini jelas adalah peran PKn dalam mengembangkan upaya internalisasi nilai moral, dan menghantarkan individu sebagai warga negara pada tahapan-tahapan dalam membentuk interaksi sosial yang baik melalui pembelajaran PKn itu sendiri.
            Merekatkan paradigma mengenai peran IPS dalam membangun harkat dan martabat bangsa, dapat kita amati dari keberagaman sudut pandang rumpun ilmu-ilmu sosial dalam menganalisis masalah kemiskinan. Keseluruhan sudut pandang tersebut dapat diramu dan dikaji secara terintegrasi untuk menghasilkan gagasan solutif dalam penanggulangan masalah kemiskinan. Kemudian lagi sudah jelas peran IPS dengan cabang ilmu Pendidikan Kewarganegaraan-nya, turut andil dalam mencetak individu (warga negara) Indonesia yang berkarakter, berbudaya luhur, selaras dengan jati diri Pancasila sehingga dapat menjadi komponen/elemen yang tidak kalah penting dalam membangun serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.


*) Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2011

Lorem

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Ipsum

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Dolor

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.