Feriansyach

Dimensi warga negara bukan hanya Hukum dan Politik, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan sebagai warga negara (Feriyansyah)

Warga Negara Digital

Warga Negara Digital Melahirkan Budaya Kewarganegaraan Baru (Feriyansyah)
 

Mempersiapkan “Digital Native” menjadi “Warga Negara Digital”

Rabu, 02 Juli 2014

Oleh
Feriyansyah *
Istilah Digital Native merupakan istilah yang digunakan oleh Marc Prensky dalam artikelnya pada tahun 2001 yang berjudulDigital Native dan Digital Immigrant” artikel ini menjadi momentum menyadarkan kita bahwa generasi kita saat ini hiudp di zaman yang berbeda dari saman Ayah dan Ibu nya. Prensky mengatakan “ Our students have canged radically. Today’s Student are no longer the people our educational system was designed to teach (Prensky 2001:1). Siswa kita berubah secara radikal, Dewasa ini siswa tidak lagi menjadi masyarakat dalam sistem pendidikan kita yang didesain untuk diajar. Teknologi digital telah merubah siswa kita saat ini, Sehingga siswa tidak lagi seperti siswa-siswa seperti generasi sebelumnya. Mereka terbiasa hidup sehari-hari dengan berbagai teknologi digital yang dekat dengan mereka. Generasi ini hidup di tengah arus informasi yang mengalir deras.

Digital Native
http://www.trintech.com/wp-content/uploads/2013/10/digital_native.jpg



Penulis teringat pernytaan agung dari Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan “didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup dizaman yang berbeda dari zamanmu”. Jika kita kaitkan dengan artikel Prensky bahwa anak-anak kita saat ini merupakan “Digital Native” atau pemukim digital (penduduk asli digital). Sedangkan para orang tua mereka merupakan para imigran di dunia digital. Orang tua, lembaga pendidikan, dan guru serta berbagai pihak harus menyadari hal ini. Jika Prensky 14 tahun yang lalu telah mengenalkan kita bahwa digital native telah lahir maka  saat ini para pemukim digital ini juga akan tumbuh dan menjadi dewasa.
Digital Native akan menjadi orang dewasa dan membawa budaya digital yang melekat pada diri mereka. Tetapi dalam prosesnya mereka perlu di persiapkan menjadi seorang warga negara digital. Istilah warga negara digital merupakan istilah yang digunakan bagi warga negara yang terbiasa menggunakan teknologi digital dalam kehdiupan sehari-hari bahkan ketika beraktivitas sebagai seorang warga negara. Kemajuan teknologi digital telah menghadirkan ruang-ruang baru bagi warga negara, ruang virtual bagi warga negara tercipta dimana warga negara digital akan terhubung satu sama lain, terhubung dengan pemerintah melalu teknologi digital serta berbagai aktivitas lain.
Disadari atau tidak Digital Native harus dipersiapkan menjadi seorang warga negara digital. Pemukim digital ini harus dipersiap melalui program pendidikan agar mereka memiliki karakteristik yang mereka butuhkan di era digital. Sehingga menjadi pertanyaan besar bagaimana mempersiapkan Digital Native  menjadi seorang warga negara ?
Digital Native  hidup di lingkungan digital yang mengglobal dimana arus informasi dari seluruh dunia dengan mudah di akses. Informasi yang mengglobal ini tentnunya akan membawa berbagai nilai yang berasal dari asal informasi tersebut. Nilai-nilai ini bisa saja tidak sesuai dengan nilai dasar masyarakat kita. Digital native memang generasi yang menglobal tetapi mereka juga harus memiliki identitias yang kuas ketika berinteraksi secara global. Identitias yang kuat lahir ketika sesorang memiliki nilai dasar yang kuat.  Oleh karena itu, Digital Native Indonesia harus memiliki identitas yang dilandasi dengan nilai-nilai dasar (nilai Pancasila ) yang kuat. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius, nilai-nilai dasar spiritual merupakan nilai yang membentuk bangsa ini yang terlembagakan di dalam rumusan Pancasila. Pada akhirnya penguatan nilai dasar bagi pemukim digital Indonesia harus dengan pendekatan digital.bagaimana proses penguatan nilai dasar sesuai dengan kondisi digital native.?
Proses pendidikan khsusunya lembaga pendidikan, orang tua dan guru harus menydari bahwa yang merka didik adalah digital Native  yang lingkungannya berbeda dari lingkungan ketika kita seusia mereka.  Pertama, kita harus mengenali dulu secara mendalam siapa digital Native?  Bagaiaman karkteristiknya, kesehariannya, dan berbagai hal yang melekat pada dirinya, perubahan-perubahan yang mereka alami. kedua, menggunakan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka.
Ketiga, kita harus mempersiapkan diri menjadi orang tua digital dan guru digital, sehingga kita bisa menjadi imgran yang baik “jika kita ingin memasuki dunia digital maka kita juga harus menyesuaikan diri dengan mereka”. Penulis jadi teringat dengan istilah “dimana bumi dipijak disitu langit di junjung” jika kita komparasikan bahwa generasi kita merupakan para immgran digital maka kita harus menyesuaikan dan menjunjung adat istiadat dan kebiasaan hidup para digital native.  Kita tentunya tidak bisa menjadi orang tua yang menjauhkan anak-anak kita dari teknologi digital. Hal itu sama saja kita melakukan konfrontrasi dengan para pemukim digital.
Digital Native  seperti tidak memiliki teladan bagaimana mengelola dunia digital yang mereka huni, karena orang tua mereka tidak memiliki pengalaman itu. Tetapi nilai-nilai dasar merupakan nilai-nilai yang tidak akan berubah bagaimana perubahan kondisi lingkungannya asalkan nilai-nilai itu tetap diyakini dan hidup di dalam diri nya.Oleh karena itu, Digital Native hanya memiliki lingkungan dan dunia yang berubah tetapi nilai dasar yang mereka anut tidak boleh berubah, inilah tugas kita sebagai orang tua dari digital native.  
Akhirnya, disadari atau tidak kita telah hadir di dunia para digital native, mereka hidup dengan cara yang berbeda tetapi mereka tidak boleh tercabut dari akar identitias sebagai bangsa Indonesia yang memiliki nilai spiritual yang menjadi nilai dasar. Digital Native Indonesia harus menjadi digital native yang tetap menjaga identitias ke-Indonesiaannya religius, santun, ramah dan penuh kehangatan, Sehingga akan tercipta dunia digital yang ramah, santun, religius dan penuh kehangatan. Digital Native akan menjadi seorang warga negara digital yang memiliki dilingkupi nilai dasar yang akan menjadi identitas merka ketika beraktivitas didalam jaringan sehingga nilai-nilai dasarharus benar tumbuh dan berkembang di dalam diri para digital native.

*Penulis merupakan Mahasiswa Program Magister Pendidikan Kewarganeagaraan SPs UPI,  yang sedang  melakukan penelitian tentang warga negara digital 

0 komentar:

Posting Komentar

Comment as a good and Smart Digital Citizens, "say no to plagiat"

Lorem

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Ipsum

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Dolor

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.