Feriansyach

Dimensi warga negara bukan hanya Hukum dan Politik, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan sebagai warga negara (Feriyansyah)

Warga Negara Digital

Warga Negara Digital Melahirkan Budaya Kewarganegaraan Baru (Feriyansyah)
 

DALIL : Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Minggu, 25 Oktober 2015

DALIL : 
Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Diterjemahkan dari Artikel Addressing Religious Diversity Through Children’s Literature: An “English as a Foreign Language” Classroom in Israel 
karya : Rawia Hayik (Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Keantarbudayaan
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si.

Oleh 
Silvia Rahmelia 
Mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana 
Universitas Pendidikan Indonesia 

  1. Identitas Jurnal
  • Journal of Multicultural Education
  • Vol.17 No.2 hlm.92-106
  • Copyright © 2015
  • Founded&Published by Eastern University Co-Sponsored by Yonsei University
  • Terindeks Scopus dengan keterangan Q2 (Kualifikasi Baik dari indeks Q1-Q4) menurut sumber scimagojr.com
  • ISSN 1934-5267

  1. Identitas Artikel
  • Judul : Addressing Religious Diversity Through Children’s Literature: An “English as a Foreign Language” Classroom in Israel
  • Oleh : Rawia Hayik (Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel)

  1. Pengantar
Artikel dalam jurnal Pendidikan Multikultur ini memunculkan permasalahan antar dua kelompok agama di Israel, yaitu Muslim dan Kristiani. Menurut penulis sekaligus peneliti, temuan penelitian dan fakta yang terkandung dalam artikel ini tidak dapat digeneralisasikan ke dalam situasi politik yang sedang terjadi di Israel. Meskipun memang demikian adanya, penelitian ini secara spesifik membahas salah satu tema dalam Pendidikan Multikultur, yakni ‘strategi pembelajaran yang tidak diskriminatif’.
Sebuah filosofi dalam Pendidikan Multikulturalisme condong kepada perbedaan ras, kultur, gender, dan kesederajatan bagi penyandang disabilitas. Namun bukan hanya itu, budaya mesti dipahami secara luas termasuk koeksidensi antara agama dikarenakan konflik wilayah. Hal ini termasuk pada kajian Pendidikan Multikultural atau Pendidikan Keantarbudayaan karena mencermati keadaan bahwa semakin hari setiap orang dituntut untuk sadar bahwa keberagaman mesti ditanggapi secara positif. Kesederajatan harus pula mencerminkan apresiasi yang sama terhadap manusia.
Pada akhirnya keanekaragaman yang berakar pada perbedaan tetap harus menciptakan kedamaian. Diawali dengan mengidentifikasi persamaan yang ada, maka permasalahan kemajemukan bisa diatasi. Seperti dibahas dalam artikel ini, Rawa Hayik sebagai guru mencermati kesamaan siswa tentang keharusan mempelajari Bahasa Inggris dan mencoba menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian melalui slogan.

 Dalil 
1. Apabila persoalan perbedaan agama terus tercermin dalam pertentangan,  maka anak-anak selamanya tidak akan paham arti perdamaian.

2. Jika perbedaan ritual keagamaan merefleksikan ketentraman, maka berbeda agama  bukanlah perang
3. Apabila pemisahan demografis tetap ada, keberagamanakan tetap tabu adanya.
4. Jika berangkat dari persamaan,  maka perbedaan akan bertransformasi  menjadi sesuatu  yang komplementer.
5. Apabila anak belajar memahami perbedaan agama,  ia akan bertindak peduli dan toleran.




















0 komentar:

Posting Komentar

Comment as a good and Smart Digital Citizens, "say no to plagiat"

Lorem

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Ipsum

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Dolor

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.