Feriansyach

Dimensi warga negara bukan hanya Hukum dan Politik, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan sebagai warga negara (Feriyansyah)

Warga Negara Digital

Warga Negara Digital Melahirkan Budaya Kewarganegaraan Baru (Feriyansyah)
 

Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Senin, 09 November 2015

Oleh
Rawia Hayik
Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel

diterjemahkan oleh
Silvia Rahmelia
Mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak: Konflik antara kelompok beda agama adakalanya muncul pada siswa Umat Kristiani dan Umat Muslim Israel-Arabi di Sekolah EFL. Dalam rangka mencoba meningkatkan pengetahuan siswa tentang saling menghormati dan menghargai terhadap keyakinan orang lain di suatu wilayah atau tempat, saya menyelenggarakan praktik pembelajaran inquiry pada kelas Middle-Eastern yang berisi siswa dengan agama yang berbeda-beda. Hal yang mendasar pada kemelekan kritis (critical literacy), saya menggunakan buku dengan dasar agama yang telah diatur, disamping kelekatan kemelekan kritis yang digalakan untuk melihat perubahan pada diri siswa terkait toleransi terhadap keyakinan yang berbeda.Artikel ini menggambarkan perjalanan saya dalam menyelidiki respon siswa terhadap bacaan yang berdasar agama dan persoalan-persoalan agama.
Kata kunci: agama, perbedaan, literatur multikultural, kemelekan kritis, stereotip, Israel

Literatur yang mendasarkan pada agama mampu membantu menangkap momen yang dapat diajarkan  untuk menolong siswa belajar dan memiliki rasa hormat terhadap segala bentuk perbedaan agama (Zeece, 1998, p.246)
Saya suka ketika kamu menundukkan kepala di mesjid, berlutut di kuil, berdoa di gereja.Anda dan saya adalah para anak dari satu agama, dan itulah jiwa. (Kahlil Gibran, n.d)

            Persaingan antara kelompok beda agama adalah kejadian yang biasa di Israel. Empat agama yang berbeda hidup di Israel, Yahudi, Islam, Kristen, dan Druze (suatu agama yang tertutup terhadap Islam) tetapi secara relatif tidak selalu hidup berdampingan dengan damai di negara yang kecil ini (Louer, 2007).Konflik berkaitan dengan latar belakang agama adakalanya muncul di desa yang kecil di wilayah Galilee di Israel, sebuah desa yang dihuni oleh umat Kristiani dan umat Muslim Arab.Dua insiden kekerasan terjadi beberapa tahun lalu. Salah satu contoh adalah laki-laki muslim yang melamar pekerjaan. Insiden lain terjadi di suatu tempat dimana dua orang anak laki-laki seusia 11 tahun berkelahi, satu orang kristiani dan satunya muslim,diakhiri dengan 10 orang dari keluarga anak laki-laki muslim tersebut mendatangi dan menyerang rumah anak laki-laki kristiani tadi. Orang kristiani yang bertetanggan dengan orang muslim selalu bermusuhan, dan pertengkaran hebat terjadi pada dua kelompok itu. Beberapa orang terluka dan sebagian lagi ditangkap.
            Permasalahan ini juga tercermin di sekolah.Di kelas yang saya ajar selama 16 tahun, tepatnya di sekolah dasar dan sekolah menengah di desa saya.Saya telah mengamati bagaimana rasa saling tidak menghormati antara siswa berlangsung karena permasalahan yang banyak terjadi, latar belakang agama adalah penyebab konflik yang paling menonjol. Pertengkaran antara siswa umat kristiani dan umat muslim telah menjadi hal yang familiar dan biasa. Biasanya pertengkaran akan terjadi diantara dua siswa, satu orang dari masing-masing agama berkembang ke arah yang lebih luas ketika siswa lainnya bergabung dan mendukung orang yang berasal dari satu agama yang sama.
            Tambahan dari pengamatan terhadap siswa di sekolah saya, pada saat istirahat hal yang tampak adalah hanya sedikit siswa yang bermain  dengan kelompok berbeda agama. Kebanyakan mereka akan bermain dengan teman yang satu agama. Seperti sebuah realitas yang membawa saya memutuskan untuk mengambil tindakan dengan mulai membicarakan persoalan bertema kelas “English as a foreign language (EFL)”. Bercita-cita untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang rasa saling menghormati  terhadap keyakinan dan agama yang berbeda di desa, saya menggunakan dasar agama sebagai literatur, sebagaimana direkomendasikan oleh Zeece (1998) pada kutipan di awal artikel ini, berharap bahwa “momen yang dapat diajarkan” ini dapat memunculkan dan memberikan hasil yang dapat diantisipasi. Artikel ini menguraikan tentang keterlibatan siswa terhadap kemelekan topik perbedaan agama diantara siswa. Setelah menjelaskan buku pelajaran yang saya gunakan, saya menampilkan dan menganalisis bagian-bagian data dan merefleksi apakah kurikulum yang saya gunakan mengarah pada perubahan pemahaman siswa, terhadap sikap nya, dan orang yang berasal dari agama lain di luar agamanya.
Kerangka Teoritis
            Didasari oleh teori lierasi kritis (kemelekan kritis) (Freire, 1972; Janks, 2010; Luke&Freebody, 2000; Penycook, 1994, 1999), penelitian saya memilih untuk membawa pengalaman siswa ke dalam kelas. Saya secara khusus mengikuti kerangka empat dimensi dari literasi kritis (lihat Tabel 1): a) mengganggu kejadian yang telah biasa terjadi (lumrah); (b) mempertimbangkan pandangan ganda; (c) memfokuskan pada sosio-politik; dan (d) mengambil tindakan untuk memajukan keadilan sosial (Lewison, Flint, & Van Sluys, 2002; Lewison, Leland, dan Hartse, 2008), berharap siswa mulai bertanya tentang kepercayaan stereotip pada keyakinan yang berbeda, memandang sesuatu dari perspektif orang lain, menyalahgunakan kepentingan pribadi untuk mendiskusikan permasalahan pada masyarakat mereka, dan bertindak untuk merubah pandangan kedalam satu hal yang lebih baik (Freire, 1972)
            Meluruskan hal ini dengan peneliti yang menerapkan critical literacy pada bidang EFL (e.g Correia, 2006: Fredricks, 2007; Izadinia&Abednia 2010), saya tentu dianggap menyimpang dari arah pengajaran tradisional yang telah diikuti oleh para pengajar bahasa pada umumnya melalui buku bacaan yang sebelumnya sudah ditentukan dan menjawab secara keseluruhan tentang pertanyaan-pertanyaan gramatikal dalam buku tugas. Persoalan perbedaan agama telah hilang dari buku teks yang digunakan di sekolah saya, sebagaimana pada buku teks yang digunakan di Amerika Serikat.Ketika menilai 60 buku teks mata pelajaran Social Studies yang digunakan di Amerika Serikat, Vitz (1986) menemukan bahwa tidak ada referensi tentang agama. Ndura (2004) menyingkap realitas yang sama ketika meninjau enam buku ESL. Dia berpendapat bahwa tidak adanya bagian yang menjelaskan tentang perbedaan agama merupakan sebuah kontradiksi terhadap diskusi Association for Supervision and Curriculum (Asosisasi Supervisi dan Kurikulum/ASCD) tentang agama dalam kurikulum, bahwa “seseorang tidak bisa dididik secara penuh tanpa pemahaman terhadap aturan tentang agama dalam sejarah dan politik” (ASCD, 1987, p.21, dalam Ndura, 2004, p.149) Ndura berpendapat,
Mengindarkan topik perbedaan agama sebagai salah satu penilaian dalam buku teks ESL tidak hanya akan membatasi siswa untuk membongkar realitas utama dari dunia mereka dan pemahaman mereka tentang perbedaan agama itu, tetapi juga akan membingungkan mereka. Hal tersebut akan membatasi kemampuan siswa untuk menghadapi dan merekonsiliasi terhadap perbedaan agama mereka. (p.149)
            Untuk mengindarkan pembatasan itu, saya memperkenalkan buku bergambar multikultural tentang perbedaan agama dan menggunakan buku tersebut sebagai batu loncatan untuk mendiskusikan persoalan-persoalan agama.
Tabel 1.Empat Dimensi Literasi Kritis
a)     Mengacaukan hal yang sudah biasa dan lumrah: menjadi suatu kesadaran dari pesan yang tersembunyi terhadap individu/kelompok, menentang praktik taken for granted (diterima sebagai sesuatu yang benar), mengembangkan dan menggunakan bahasa pada tinjauan dan realitas problematis serta menampilkan satu hal yang berbeda.
b)     Mempertimbangkan pandangan yang berbeda dan ganda: memberikan kesadaran pada suara-suara yang diam dan termarjinalkan, mencoba untuk memahami pengalaman dan bacaan dari pandangan lain, berdasarkan perspektif yang banyak dan berbeda dari suatu masalah, mendekatkan aspek yang banyak atau multi dan kontradiktif pada bacaan atau kejadian, dan memperdebatkan cerita atau tulisan yang berlawanan sebagai wacana ilmiah yang dominan.
c)      Memfokuskan pada sosial-politik: beralih melebihi keadaan personal untuk menilai sistem sosial-politik dalam masyarakat, mempertanyakan legitimasi dari kekuatan hubungan yang tidak seimbang; menyelidiki tekanan yang muncul; hak-hak istimewa; dan keadaan, serta menggunakan kemelekan sebagai suatu yang berarti untuk berpartisipasi dalam politik  di kehidupan sehari-hari (Lankshear&McLaren, 1993)
d)     Mengambil tindakan untuk memajikan keadilan sosial: menggunakan kemelekan untuk memajukan keadilan sosial dan merubah serta mengembangkan ke arah aktivis sosial dengan suara yang sangat kuat yang berbicara tentang  perlawanan dari ketidakadilan.

Menggunakan Literatur Multikultural untuk Anak di Kelas
            Buku multikultural menggambarkan “kelompok yang termarjinalkan karena ras, gender, etnis, bahasa, kemampuan, usia, kelas sosial, agama/spiritualitas, dan/atau orientasi seksual” (Muse, 1997, p.1). Mereka menggambarkan kehidupan orang dari kebudayaan yang bermacam-macam dan kelompok minoritas
[Tambahan, mereka] mengembangkan kesadaran, pemahaman, dan apresiasi orang yang pertama kali melihat secara sekilas berbeda dari pembaca; menampilkan suatu hal yang positif dan menenangkan pada representasi pembaca satu kelompok budaya; [dan] memperkenalkan pembaca pada suatu tradisi kesusastraan perbedaan kebudayaan dunia atau kelompok kebudayaan (Jacobs&Turnell, 2004, p.216)
            Memilih buku-buku yang relevan untuk kehidupan siswa adalah suatu hal yang bermanfaat baik untuk mayoritas maupun minoritas siswa (Al-Hazza, 2006; Al-Hazza&Bucher, 2008; Yokota, 1993). Tidak hanya meberikan kesempatan untuk siswa dari kebudayaan yang minoritas untuk memahami dan mengembangkan pendirian dalam warisan mereka dan membangun konsep diri yang positif, tetapi juga membiasakan diri seluruh siswa dengan kebudayaan-kebudayaan lain daripada yang mereka miliki, dengan demikian, menolong mereka untuk mengembangkan pemahaman terhadap perbedaan satu dengan yang lainnya dan memperlengkapi mereka dengan sesuatu yang lebih baik untuk hidup di tengah masyarakat dengan budaya yang berbeda.
            Literatur anak merefleksikan perbedaan keyakinan yang mempertimbangkan satu dari  banyak cara yang baik untuk menolong pemahaman siswa terhadap perbedaan agama (Peyton&Jalongo, 2008: Green&Oldendorf, 2005: Zeece, 1998). Seperti Rettig (2002) menegaskan, “Menolong siswa untuk sadar pada apa yang penting dari suatu agama tertentu adalah juga tahapan penting terhadap pemahaman seseorang yang percaya pada agama itu”. (p. 196). Peyton&Jalongo (2008) mengusulkan bahwa dalam rangka mendorong rasa saling menghormati antar beda keyakinan , guru perlu untuk (a) membiasakan siswa dengan keyakinan, adat istiadat, ritual keagamaan, pakaian, simbol-simbol melalui informasi yang akurat; (b) mengidentifikasi keyakinan yang lumrah diantara keyakinan atau kepercayaan yang berbeda; (c) mengakui bahwa perbedaan keyakinan ada di masyarakat tanpa perlu mengikuti apa yang mereka percayai; (d) menegaskan hak-hak setiap orang termasuk bangga dengan apa yang diyakini. Buku dengan kualitas tinggi yang mendasarkan pada agama adalah peralatan yang potensial untuk meraih keberhasilan seperti tujuan-tujuan.
            Dalam konteks pengajaran saya, menggunakan beberapa buku mungkin akan mengeliminasi stereotip dari suatu agama, Kristen dan Islam, berpegangan satu sama lain. Buku yang memiliki kekuatan tersebut mungkin menyediakan refleksi terhadap hidup kita dan jendela terhadap kehidupan orang lain (Galda, 1998), lensa mata melalui siswa yang dapat bertanya tentang realitas permasalahan mereka dan dengan penuh harap dapat merealisasikan tindakan bahaya yang membabi buta dari suatu kepercayaan dan aturan. Mereka mungkin dapat membangkitkan siswa dari “efek mati rasa pada kelompok homogen dan pengalaman hidup yang tidak jauh berbeda” (Miclntyre, 1997)
            Untuk membuat kemelekwacanaan dalam kurikulum saya, saya menggunakan literatur multikultur, meminta pertanyaan menantang, dan mengundang siswa untuk mengekspresikan persepsi mereka tentang realitas dan bacaan melalui tugas lisan, tulisan, dan seni dengan tipe yang berbeda-beda. Saya berharap untuk bisa mengeksplorasi apa yang terjadi ketika seorang guru membaca literatur tentang persoalan-persoalan keagamaan dengan lantang terhadap remaja Isreali-Arab dalam konteks ESL dan menyediakan ruang untuk mereka menjawab bacaan-bacaan tersebut. Akankah siswa mengambil undangan tersebut dan mulai menempatkan persoalan-persoalan tersebut pada kebiasaan yang kritis?
Perjalanan Penelitian Saya
            Sebagai seorang guru dan peneliti (Hubbard&Power, 2003), saya mengadakan penelitian melalui kursus bahasa inggris selama enam minggu pada musim panas 2010.Penelitian ini berlokasi di sekolah tingkat menengah di desa saya di Galilee-Israel, sebuah desa yang ditempati oleh sekitar dua pertiga Kristen Arab dan satu pertiga Muslim.Sebuah desa yang seluruhnya asli Kristen, tetapi Muslim sebagai pendatang beberapa dekade lalu dan menetap di sekitar desa.Dewasa ini, penduduk muslimtinggal di daerah pinggiran sementara penduduk kristiani tinggal di dalam pedesaan. Meskipun semua siswa di desa pergi ke sekolah yang sama, mereka kembali pada kelompok dan tetangga yang seagama pada saat pulang sekolah. Pemisahan demografis terlihat berkontribusi pada permasalahan agama di desa ini.
            Semenjak kursus membutuhkan level Bahasa Inggris yang lumayan untuk memahami buku-buku cerita dan menjawab dalam bahasa Inggris kembali, siswa pada level lanjutan di kelas 9 (21 siswa) diundang untuk berpartisipasi. Sepuluh siswa setuju untuk berpartisipasi dan mengembalikan surat persetujuan orang tua mereka (7 perempuan dan 3 laki-laki, usia 14-15 tahun). Mereka bergabung dengan kelas intensif saya untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. Rasio partisipan dengan latar belakang agama ialah 7 Kristen dan 3 Muslim. Bagaimanapun tidak semua siswa menghadiri kursus dikarenakan terkait kegiatan mereka pada liburan musim panas. Siswa yang berpartisipasi secara terperinci, yaitu Nasma (Seorang perempuan muslim), Luna dan Rawan (Perempuan Kristen), dan Waala (Laki-laki Kristen). Mereka adalah warga negara Arab-Israel  yang datang dari kelas keluarga menengah. Pengalaman mereka yang kaya, wawasan yang amat luas, dan pemikiran mereka yang canggih tidak dapat disamakan dengan kemampuan mereka dalam Bahasa Inggris.Walaupun secara signifikan kemampuan bahasa Inggris mereka melebihi rata-rata di kelompoknya, tetap saja kemampuan bahasa Inggris mereka layaknya siswa kelas 9 SMP. Jurang diantara aspek kognitif dan espektasi sosial dan l kemampuan bahasa Inggris evel menengah mengharuskan pendekatan yang tajam akan materi kritik melalui bahasan yang mudah. Semenjak hal itu tantangan untuk membaca dan merespon secara kritis dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, saya memilih buku bergambar yang terkelola dengan tingkat kesukaran tata bahasa yang akan mendorong siswa untuk mengekspresikan pikiran mereka melalui suatu cara yang dapat dilakukan seperti menggambar. Mereka juga menawarkan kemungkinan untuk menukar bahasa ke bahasa Arab ketika mendapati ide mereka sulit dikemukakan dalam Bahasa Inggris
            Data terdiri dari video saat kursus, respon siswa terhadap teks (menulis refleksi, kolase, poster, surat, slogan, sketsa, dan artefak seni lainnya); refleksi penelitian jurnal; grafik dan poster diskusi; foto saat siswa sedang bekerja; interaksi antar siswa; bertukar ide dan presentasi. Untuk analisis respon siswa, saya terlebih dahulu menilai tema yang muncul melalui model alternatif analisis tema.Saya kemudian mencermati apakah siswa mengacu pada empat dimensi kemelekwacanaan atau literasi kritis yang menjadi kerangka kerja. (Lewison et al, 2002; Lewison et.al, 2008)
Gambaran Kesatuan pada Perbedaan Agama
            Untuk memulai pembicaraan terkait konflik yang muncul antara kelompok umat Kristiani dan Muslim di desa dan di sekolah, saya memulai dengan unit membaca dengan lantang dua buku bergambar yang berupaya memajukan toleransi dan pemahaman tentang perbedaan agama God’s Dream (Tutu&Abrams, 2008) dan Many Ways: How Families Practice Their Beliefs and Religions (Kelly, 2006). Sebagai suatu penutup pada unit ini, saya membaca Fathers and Fools (Fox, 1989)
            God’s Dream (Tutu&Abrams, 2008) membuka suatu pendekatan terhadap persoalan sensitif ini dengan siswa-siswa dari latar belakang agama yang berbeda. Buku ini menyampaikan pesan bahwa anak yang melihat, memakai, berbicara, dan berdoa secara berbeda-beda, semuanya adalah anak Tuhan dan seharusnya hidup berdampingan dengan damai satu  sama lain. Ini memfokuskan pada kesamaa daripada perbedaan.Siswa juga pernah meminta untuk menghubungkan teks dengan hidup mereka melalui pengujian atau penilaian aspirasi idealis penulis.Apakah gambar idealis dari anak-anak yang sedang bermain bersama, seperti digambarkan dalam buku, sesuai atau menyimpang dari realita yang terjadi pada mereka?Apakah mereka yang menolong anak beawal dari persamaan atau perebedaan agama?Apa yang membimbing pilihan mereka untuk memilih teman?
Tabel 2.Silabus Unit Perbedaan Agama
Book Used
Curriculum Activities
God’s Dream (Tutu&Abrams, 2008)
·         Siswa memilih dan berbagi ketertarikan/kekuatan/kesesuaian kutipan, menulis tetang mimpi mereka, mendiskusikan pesan penulis, dan merespon pada ‘sebuah jurnal bicara’
Many Ways: How Families Practice Their Beliefs and Religions (Kelly, 2006)
·         Siswa berbagi foto tentang tradisi agama mereka yang berbeda
Fathers and Fools (Fox, 1989)

·         Siswa mempresentasikan foto pertengkaran antara Muslim dan Kristiani, mendiskusikan apa manfaat yang mereka dapatkan dari situasi di desa mereka.
·         Siswa mengajukan cara-cara yang mungkin bisa diambil tindakannya
·         Siswa “Sketsa untuk Memperlunak”

            Untuk menghubungkan teks dengan kehidupan siswa, siswa diundang untuk memilih suatu kutipan dari buku yang menurut mereka menarik, menguatkan, dan sesuai dan menuliskannya (lihat Tabel 2). Literasi tambahan melibatkan pada buku yang mendorong siswa untuk menulis tentang mimpi mereka, dan merefleksikannya dalam kutipan dari buku di “sebuah jurnal bicara” (Lewison et.al, 2008, p.195) dan untuk mencermati  pesan penulis dan membayangkan bagaimana buku akan berbeda jika suatu agama menguasainya.
            Buku kedua, Many Ways: How Families Practice Their Beliefs and Religions (Kelly, 2006), adalah buku dengan banyak warna tentang sebuah keyakinan dan praktik agama dari orang-orang yang berbeda dan agama yang bervariasi. Buku ini memunculkan kesadaran siswa pada ‘perbedaan ritual keagamaan dan pada kesamaan antara keluarga mereka serta mereka yang berakar pada tradisi dan praktik keyakinan agama mereka’ (catatan penulis). Buku dimulai dengan foto bernuansa vivid (hidup) anak-anakyang datang ke sekolah yang sama dan bermain bersama tetapi berdoa kepada Tuhan yang berbeda. Gambar itu melukiskan praktik dan pendirian Budhist, Kristiani, Muslim, Yahudi, Hindu, dan Sikhtetapi berakhir dengan pesan bahwa semua agama mengajarkan kesamaan nilai: kasih sayang dan kepedulian satu sama lain.
            Cerita berakhir dengan kalimat tentang apakah semua agama mengajarkan (kasih sayang dan kepedulian satu sama lain). Siswa diminta untuk membawa ayat bukti dari kitab suci mereka masing-masing. Papan tulis bercabang ke dalam dua bagian dengan dua aspek utama: Kristiani dan Islam. Siswa yang menginginkan untuk berkontribusi menulis ayat dalam kitab suci mereka di papan tulis dengan arahan yang pantas. Siswa yang lain berani untuk maju dan menggambar garis antara ajaran yang sama dari kedua kelompok agama. Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memunculkan kesadaran siswa akan perbedaan antara kedua agama, mereka berbagi nilai yang sama dan berdoa pada Tuhan yang sama.
            Untuk memajukan suatu pemahaman tentang praktik keagamaan dari agama lain di luar gamaa mereka, siswa Muslim dan Kristiani di kelas musim panas ini diundang untuk membawa foto dari kegiatan keagamaan keluarga mereka (seperti hari libur keagamaan, makanan dalam perayaan agama, hari besar keagamaan) dan menulis paragraph pendek untuk menceritakan foto tersebut.
            Buku terakhir adalah Fathers and Fools (Fox, 1989), sebuah buku yang menceritakan sebuah konflik yang dimulai antara angsa dan burung merak karena ketakutan mereka terhadap perbedaan yang mereka miliki sehingga mengarah pada perang yang sengit dan mengakibatkan burung-burung dari kedua kubu mati. Setelah membaca buku ini, saya mengundang siswa untuk menggambar sketsa agar memperlunak “Sktech to Stretch” (Harste, Short&Burke, 1988), sketsa untuk menggambarkan cerita yang menganalogikan angsa dan burung merak. Siswa menghasilkan sketsa yang amat besar dari konflik yang terjadi di wilayah mereka, sekalipun tidak spesifik tentang satu agama (untuk sketsa dan analisis detil lihat Hayik, 2011)
            Banyak dari siswa yang merespon persoalan ini sebagai suatu yang umum dan dianulir secara politis.Bagaimanapun disana terdapat dua wilayah selama kursus dimana siswa menyentuh aspek yang mungkin spesifik untuk kontkes agama mereka, ketika mereka berbagi tentang foto dari kegiatan keagamaan keluarga mereka dan ketika mereka mempersiapkan dan menampilkan slogal untuk memperkenalkan perbedaan agama. Sesi selanjutnya didedikasikan untuk respon mereka (siswa)

Foto Hari Libur Keagamaan Seorang Siswa
Gambar 1 Foto Rawan dan Deskripsi dari Upacara Keagamaannya
            Ketika diminta untuk membawa foto tradisi kegiatan hari libur keagamaan agamanya, dua orang siswa membawa foto yang mereka anggap spesial, dan memperlihatkannya kepada kelompok mereka.Rawan, seorang siswi Kristiani memilih foto dirinya saat berusia satu tahun ketika Palm Sunday bersama tantenya.Tambahannya, dia menceritakan ikatan antara dirinya dan tantenya, dia kemudian menceriratakan tradisi Palm Sunday dengan singkat.
            Laporan singkat Rawan adalah tentang pergi ke gereja pada hari raya Paskah mungkin bukan merupakan hal yang baru bagi Nasma (satu-satunya siswi muslim). Sejak Nasma tinggal di desa di suatu desa yang terkenal dengan populasi umat Kristiani, dia lebih diarahkan pada hari libur keagamaan mereka dari pada agamanya sendiri. Melihat faktanya bahwa umat Muslim tinggal di pinggiran desa lebih baik daripada pusat kesibukan dimana sekolah dan pusat bisnis berlokasi, Muslim sering pula berkunjung ke pusat kota tersebut. Penduduk Kristiani, di sisi lain, jarag pergi ke tetangganya yang Muslim.Sebagaimana hasil yang didapat, mereka sama sekali tidak berkenalan dengan budaya muslim dan kegiatan keagamaan mereka.
Gambar 2 Foto Nasma dan Deskripsi dari Upacara Keagamaannya
            Nasma, seorang siswi Muslim, juga membawa foto firinya. Di dalam fotonya, dia berdiri dengan ibu dan kakak perempuannya di depan Mesjid Al-Aqsa di Jerusalem. Semuanya mengenakan jilbab saat kunjungan tersebut.Meskipun Nasma dan kakak perempuannya bukan perempuan yang religious, suatu pernyataan mengharuskan Msulim perempuan untuk mengenakan hijab.Di bagian bawah foto dia menuliskan tentang dirinya.
            Ini terlihat sangat penting bagi Nasma untuk membagi kisah tentang foto tersebut, meskipun umat Kristiani di desanya sangat sensitif terhadap wanita berkerudung. Sejak desanya dihuni oleh sebagian besar umat Kristiani, dan sangat banyak perempuan Muslim di desanya, khususnya remaja, tidaklah ‘religius’, anak Kristen di desanya tidak toleran terhadap teman seusianya seperti Nasma mengenakan kerudung. Mereka akan sangat antipasti terhadap Nasma.
            Sesuai pada realitas foto Nasma memang memiliki signifikansi.Ini berbeda dari biasanya, dari umat Kristiani. Diluar foto perayaan hari besar agama-agama siswa lain, Nasma justru membawa hal yang tidak biasa dengan menampakkan dirinya berkerudung. Mengingat siswa lainnya membawa foto tentang upacara keagamaan, makanan di perayaan hari besar agamanya, dan pakaian yang dikenakan, dan pesta (Begler, 1998), Nasma menyelami lebih dalam dan menceritakan perasaan yang sangat personal terkait tempat yang seakan rumah baginya.
            Sebagai seorang siswa minoritas Muslim dengan mayoritas Arab Kristen dan Umat Yahudi di desanya, pilihan Nasma untuk membawa foto dirinya yang berkerudung terlihat menunjukkan identitasnya sebagai Muslim.Membandiingkan dengan banyak perempuan Muslim di negara-negara barat memilih menggunakan kerudung sebagai penegasan identitas Islam mereka. Wing dan Smith (2005) menceritakan bagaimana perempuan di Prancis mengadopsi penutup kepala dalam pencarian identitas mereka saat menginjak usia dewasa. Hal ini menandakan sense of belonging (rasa keterikatan).Kulenovic (2006) menemukan bahwa imigran perempuan Muslim di Eropa Barat dan perkumpulan di Amerika, yang mana mereka adalah kaum minoritas, merubaha perspektif mengenakan kerudung sebagai simbol tekanan sosial menjadi simbol kebebasan dan pembedaan identitas sosial. Kebebasan pilihan mereka untuk menggunakan kerudung mengindikasikan identitas islam yang modern. Bagi mereka, penutup kepala adalah salah satu cara memperlihatkan identitas mereka. Ketika membandingkan penggunaan kerudung di negara Muslim masyoritas seperti Indonesia  dengan negara muslim minoritas seperti India, Wagner, Sen, Permanadeli, dan Howart 92012) menemukan perbedaan signifikan antara keduanya. Padahal  alasan untuk berkerudung bagi perempuan Muslim mayoritas adalah prinsip, fashion, dan kesopanan dalam beragama, kebanyakan perempuan muslim minoritas melihat kerudung sebagai ‘sebuah cara untuk menegaskan identitas kultural’ dan untuk membedakan mereka dari masyarakat yang begitu luas dan berbeda (p.521). Pilihan Nasma untuk membawa foto dirinya yang berhiijab  (meskpiun dia tidak sepenuhnya menggunakan hijab) mengindikasikan aspirasi yang sama untuk membedakan dirinya dari mayoritas identitas yang ada dan menegaskan identitasnya secara jelas.
            Meskipun siwa yang lain tidak merespon dengan apa yang Nasma perlihatkan, melihat kedekatan mereka, menerima temannya yang Muslim dan mengenakan hijab kemudian menceritakan pengalaman spesialnya di Mesjid Al-Aqsa mungkin sangat berpotensi meningkatkan toleransi mereka terhadap perempuan Muslim. Di waktu yang akan datang mereka menemukan perempuan berkerudung, mereka mungkin akan mulai melihat seseorang yang sebenarnya dibalik kerudung itu.
            Tambahan respon yang sangat banyak terhadap persoalan yang dibahas di kursus musim panas ini ialah ketika siswa merancang slogan untuk memajukan perdamaian dan hidup berdampingan antara dua kelompok agama di desa.Kreatifitas siswa dalam membuat slogan dijelaskan pada bagian berikutnya.


Slogan-Slogan untuk Memajukan Sikap Toleransi Beragama
           Sepanjang kursus berjalan, saya mengundang siswa untuk mengajukan cara lain memajukan hubungan yang damai antara dua kelompok beda agama di desa. Mereka mengusulkan untuk mempersiapkan slogan dan menampilkannya di jalan-jalan utama pedesaan, mendemonstrasikan perlawanan terhadap konflik agama.Slogan-slogan yang mereka buat dan presentasikan di Figure 3                                                                                                                                









            Beberapa siswa mempersiapkan satu slogan, terkecuali Luna yang merancang dua buah slogan. Mereka lalu meninggalkan kelas dan berdiri di pinggir jalan, kemudian melintasi kantor walikota (lihat gambar 4). Mereka memegang slogan yang telah mereka buat dengan bangga namun terlihat malu-malu dan mereka menunggu para pejalan kaki untuk berhenti kemudian menanyakan tentang pesan yang mereka sampaikan pada slogan.Sayangnya beberapa orang hanya lewat dan tidak memberhentikan kendaraannya.Hanya sedikit orang yang berjalan di sore hari di musim panas, tetapi hanya salah seorang saja yang berhenti dan membaca slogan-slogan itu.
            Slogan itu menyatakan bahwa siswa-siswi menyoroti sisi problematis dari  sebuah realitas. Perkelahian antara umat Muslim dan Kristiani adalah hal yang menakutkan bagi Rawan, dan begitu halnya menurut Nasma, “tidak ada satu orang pun yang membutuhkan masalah”. Berhenti bertengkar akan mengalihkan kegelapan kepada cahaya, seperti  yang dikatakan dan ditampilkan Walaa. Merubah dunia ke arah yang lebih baik, adalah slogan yang dibuat Walaa.
            Di slogan mereka, dua orang siswa menekankan kebutuhan  sebagai sebuah kelompok, begitu pula kata yang mereka gunakan di slogan, “kita”: “kita menginginkan kehidupan yang damai” (dalam slogan Luna) dan “kami membutuhkan kedamaian” (dalam slogan Nasma). Arti perdamaian di sini rupanya memiliki dimensi yang lain, sejak Luna menunjukkan slogan tentang perdamaian antar agama (Kristiani dan Muslim bergandengan tangan menciptakan dunia yang damai) sementara Nasma menambahkan singakat “M” dan “Ch” pada slogannya.
            Dalam slogan-slogan mereka, siswa menciptakan kekuatan yang menunjukkan sesuatu yang tidak boleh tidak atau perintah.Mereka meminta orang-orang untuk “berhenti dan berpikir” (Nasma) dan “berhenti bertengkar” (Rawan dan Walaa).Mereka juga menggunakan kata bersajak untuk menjelaskan efek dari beberapa permintaan yang mereka buat dalam slogan.
Gambar 4. Siswa mendemonstrasikan perdamaian di jalan-jalan utama melalui slogan yang mereka buat
            Slogan yang dibuat siswa secara khusus menarik perhatian karena mereka merespon terhadap pertengkaran di desa mereka daripada mencermati persoalan yang lebih besar yang terjadi dengan negaranya Israel.Di bagian sebelumnya, siswa berulang kali menjawab undangan saya untuk berdiskusi tentang persoalan-persoalan agama dengan memulai membahas permasalahan yang terjadi pada agama di desanya.Latar belakang permasalahan yang muncul di desa mereka tidak secara signifikan menjadi urusan mereka bahwa mereka juga menempatkan kontkes politik yang lebih luas di negaranya. Mereka terlalu fokus dan lebih menyukai “politik luas” daripada “politik sempit” (Janks, 2010). Seperti contoh, setelah membaca dua buku pertama, saya menampilkan foto kepada siswa, foto dari kerusakan yang terjadi di desa setelah dua kelompok Kristiani dan Muslim saling serang. Ketika saya bertanya apa yang mereka rasakan, mereka menjawab “tidak ada” dan “kami harus menghadapi sistuasi ini”. Bagaimanapun slogan tersebut mengindikasikan sesuatu hal yang berbeda: mereka sebenarnya peduli tentang permasalahan yang terjadi di desan mereka. Melalui slogan yang dibuat siswa, mereka mengekspresikan  bahwa konflik agama  merupakan sebuah fakta, sesuatu yang menakutkan, dan berdampak pada kualitas hidup mereka di desa.
            Slogan mereka juga mencerminkan realitas dari perspektif yang berbeda daripada respon orang lain secara keseluruhan. Secara umum, respon siswa pada peristiwa ini berubah-ubah dari umum ke khusus. Sebelum saya mengangkat penelitian saya, saya heran apakah pandangan dan kritik yang banyak akan menampilkan respon yang sebenarnya ketika siswa mengenal literatur tentang perbedaan agama dan menyediakan ruang untuk mereka merespon. Bagian selanjutnya akan menjelaskan secara lengkap tentang penelitian dan data yang lebih cermat terkait empat dimensi kemelekwacanaan dan mengeksplor dimensi kritik yang berbeda yang dihasilkan dari respon siswa.
Diskusi, Implikasi, dan Kesimpulan
Empat dimensi kemelekwacanaan memunculkan respon yang istimewa dari artikel ini.Nasma menggungat suatu hal yang lumrah dan telah dianggap biasa, yakni dengan menampilkan fotonya yang sedang berjilbab. Pilihan tersebut merupakan suatu tantangan terhadap status quo di desanya, juga terhadap praktik taken for granted (sesuatu yang telah dianggap benar dan diterima) pada diri remaja perempuan yang tidak menggunakan kerudung. Hal ini merupakan penyimpangan dalam pandangan normal mayoritas orang-orang Kristiani di desanya.Colby and Lyon (2004) mencermati literatur sebagai suatu alat yang mengabadikan dan menghancurkan stereotip. Foto yang ditampilkan Nasma mungkin akan menentang stereotip dari seorang perempuan berkerudung. Ketika siswa Kristiani memandang bahwa perempuan muslim yang berkerudung itu primitive, hal itu bersifat popular, teman sekelasnya juga meraih prestasi yang baik, dan menjadi kekaguman bagi guru dan siswa di sekolah, dengan kerudung, stereotip mereka tentang muslim mungkin akan berubah.
Dimensi kedua, mempertimbangkan pandangan yang multi perspektif, juga muncul dari foto yang dibawa Nasma.Siswa umat Kristiani yang lain yang berpikir normal dan merasa segan terhadap perempuan berkerudung seperti Nasma mungkin akan mulai berpikir dari perspektif perempuan muslim. Mereka mungkin akan mulai mengetahui pendapat-pendapat yang tadinya tidak pernah muncul dan termarginalkan (Luke&Freebody, 1997), mencoba untuk memahami pengalaman dari berbagai perspektif sebagai masukan terhadap perspektif mereka sendiri secara bersamaan. Mendengar kegemberiaan yang ditampakkan Nasma saat berkunjung ke Mesjid, tempat ibadah agamanya dan mengenakan hijab mungkin juga akan meningkatkan toleransi mereka terhadap siswa lain yang berbeda keyakinan. Mereka juga akan mulai melihat lebih dalam tentang Nasma dibalik kerudungnya dan menerima ideologinya sebagai suatu keputusan.
Dimensi sosial-politik memunculkan pandangan yang luas tentang siswa dan mereka mulai beralih pandangan untuk mengatasi persoalan-persoalan keagamaan.Mereka menggunakan literasi sebagai sesuatu yang bermakna dalam politik dan keseharian mereka (Lankshear&McLaren, 1993), secara lebih spesifik ketika mereka merancang slogan untuk memajukan perdamaian antara kelompok agama yang berkonflik di desa.
Siswa siswi juga mengambil tindakan untuk memajukan keadilan sosial melalui slogan-slogan dan pergi ke jalan-jalan utama desa kemudian berbagi pada para penduduk.Slogan yang mereka buat berisi pesan tentang keadilan dan demokrasi di dunia, menulis kembali tentang identitas sosial mereka yang menentang status quo dan menginginkan perubahan, mengembangkan kekuatan pendapat dan berbicara tentang perlawanan melawan ketidakadilan (Lewiosn et.al, 2008, p.12). Bahkan ketika mereka terkontaminasi perubahan yang amat kecil dari suatu sikap dan pandangan, aktivitas tersebut akan menyediakan satu kemungkinan untuk tindakan perubahan. Dalam konteks dimana orang dari kedua kelompok agama terlibat dalam pertengkaran dan saling klaim tentang hak mereka masing-masing, kursus yang diadakan memperlengkapi siswa untuk suatu tindakan yang diharapkan akan diterapkan pada situasi di masa depan.

Untuk menyatukan perbedaan agama, saya menggunakan buku bergambar untuk meningkatkan keberanian siswa untuk mulai menantang penyimpangan pemikiran dalam agama mereka dan memajukan pemahaman tentang toleransi dan rasa saling menghormati terhadap orang yang berbeda agama. Saya berharap buku yang saya pilih dan yang mendampingi keterlibatan literasi dapat menyediakan “momentum yang dapat diajarkan” (Zeece, 1998, p.246) untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan hormat terhadap agama lain di desanya. Tujuan saya adalah untuk menolong mereka memperluas alasan yang mereka dapatkan dan memahami secara mendalam tentang perbedaan agama dan konflik yang timbul, dengan demikian mereka dapat melihat perspektif lain dan menjadi pemikir yang aktif yang muncul dari pendirian kritis (McLaughin&DeVoogd, 2004, pp.61-62). Seperti suatu tujuan yang diputar untuk memperluas pernyataan yang sempit dan hal itu akan menghasilkan. Menantang akar yang dalam dari permasalahan agama merupakan hal yang lebih sulit daripada yang saya bayangkan.Siswa mencoba untuk memajukan hubungan yang damai antara dua kelompok agama di desanya melalui slogan, tetapi kecuali dalam beberapa kasus, mereka lebih menyukai untuk menempatkan topik pernyataan umum dan menunjuk pada konflik antara Arab dan Yahudi di negara ini.Hal tersebut lebih baik daripada Kristiani dan Muslim yang berkonflik di wilayah desanya. Kurikulum yang saya terapkan menggerakan banyak pikiran, kepercayaan, dan perasaan di dalam kepala, jiwa, dan hati para siswa, tetapi apa yang terlihat dan terdengar memberikan jawaban bahwa apa yang mereka hasilkan tidak banyak merubah pandangan mereka terhadap persoalan perbedaan agama. Namun demikian, efek dari upaya ini mungkin tidak banyak terlihat, tersembunyi, sampai pertengkaran berikutnya muncul.Saya merasa ragu bagaimana siswa saya kana bertindak kemudian. Akankah mereka mengambil tindakan untuk suatu perubahan sikap, atau akankah mereka bergabung dalam pertengkaran berikutnya sama dengan keluarga mereka, atau akankah mereka tetap bertindak berbeda dengan berpikir itu urusan mereka? Hanya waktu yang akan menjawabnya. 

DALIL : Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Minggu, 25 Oktober 2015

DALIL : 
Menempatkan Perbedaan Agama melalui Literatur Anak : Kelas “Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing“ di Israel

Diterjemahkan dari Artikel Addressing Religious Diversity Through Children’s Literature: An “English as a Foreign Language” Classroom in Israel 
karya : Rawia Hayik (Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Keantarbudayaan
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si.

Oleh 
Silvia Rahmelia 
Mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana 
Universitas Pendidikan Indonesia 

  1. Identitas Jurnal
  • Journal of Multicultural Education
  • Vol.17 No.2 hlm.92-106
  • Copyright © 2015
  • Founded&Published by Eastern University Co-Sponsored by Yonsei University
  • Terindeks Scopus dengan keterangan Q2 (Kualifikasi Baik dari indeks Q1-Q4) menurut sumber scimagojr.com
  • ISSN 1934-5267

  1. Identitas Artikel
  • Judul : Addressing Religious Diversity Through Children’s Literature: An “English as a Foreign Language” Classroom in Israel
  • Oleh : Rawia Hayik (Fakultas Pendidikan Guru Universitas Sakhin Israel)

  1. Pengantar
Artikel dalam jurnal Pendidikan Multikultur ini memunculkan permasalahan antar dua kelompok agama di Israel, yaitu Muslim dan Kristiani. Menurut penulis sekaligus peneliti, temuan penelitian dan fakta yang terkandung dalam artikel ini tidak dapat digeneralisasikan ke dalam situasi politik yang sedang terjadi di Israel. Meskipun memang demikian adanya, penelitian ini secara spesifik membahas salah satu tema dalam Pendidikan Multikultur, yakni ‘strategi pembelajaran yang tidak diskriminatif’.
Sebuah filosofi dalam Pendidikan Multikulturalisme condong kepada perbedaan ras, kultur, gender, dan kesederajatan bagi penyandang disabilitas. Namun bukan hanya itu, budaya mesti dipahami secara luas termasuk koeksidensi antara agama dikarenakan konflik wilayah. Hal ini termasuk pada kajian Pendidikan Multikultural atau Pendidikan Keantarbudayaan karena mencermati keadaan bahwa semakin hari setiap orang dituntut untuk sadar bahwa keberagaman mesti ditanggapi secara positif. Kesederajatan harus pula mencerminkan apresiasi yang sama terhadap manusia.
Pada akhirnya keanekaragaman yang berakar pada perbedaan tetap harus menciptakan kedamaian. Diawali dengan mengidentifikasi persamaan yang ada, maka permasalahan kemajemukan bisa diatasi. Seperti dibahas dalam artikel ini, Rawa Hayik sebagai guru mencermati kesamaan siswa tentang keharusan mempelajari Bahasa Inggris dan mencoba menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian melalui slogan.

 Dalil 
1. Apabila persoalan perbedaan agama terus tercermin dalam pertentangan,  maka anak-anak selamanya tidak akan paham arti perdamaian.

2. Jika perbedaan ritual keagamaan merefleksikan ketentraman, maka berbeda agama  bukanlah perang
3. Apabila pemisahan demografis tetap ada, keberagamanakan tetap tabu adanya.
4. Jika berangkat dari persamaan,  maka perbedaan akan bertransformasi  menjadi sesuatu  yang komplementer.
5. Apabila anak belajar memahami perbedaan agama,  ia akan bertindak peduli dan toleran.




















Mencabut Akar Kemiskinan, Menanam Karakter Keluhuran: Peran IPS

Kamis, 03 September 2015


Oleh Silvia Rahmelia*)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan manusia pada konsep-konsep teori terbarukan. Relevan dengan perkembangan zaman, konsep-konsep yang terbangun dalam teori baru semakin canggih dan secara otomatis menyebabkan teori-teori yang telah lama ada menjadi terbantahkan.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai bagian dari pohon ilmu yang bercabang dari filsafat, beriringan dengan ilmu alam dan ilmu humaniora, memiliki bidang kajian serta keilmuan tersendiri. Baik itu meliputi ciri-ciri spesifik layaknya aspek ontologi, epistimologi dan aksiologi-nya masing-masing maupun dalam output sudut pandang pemahaman terhadap suatu permasalahan sosial.
Colhoun memberi batasan mengenai definisi Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Science), yaitu:
“Social science is the study of the group behavior of families, factories churches, communities, nation, and other groups. It is also concerned with the behavior of individual people insofar as the influenced by their belonging to group.”
Maka dapat diartikan bahwa IPS ini merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi dalam suatu kelompok serta pengaruh yang ditimbulkan dari interaksi itu. Menindaklanjuti perkembangannya, bahwa para ilmuwan sosial tampak setuju dan menganggap perlu untuk mengkaji tentang berbagai cara manusia sosial berinteraksi. Karena tak dapat dipungkiri bahwa dalam kenyataannya manusia sosial itu merupakan suatu kompleksitas yang memiliki hakekat ‘multidimensional’. Sama halnya dalam struktur kajian IPS sendiri yang cenderung multidimensional.
IPS memiliki makna yang sangat luas sebagai akibat penggunaan istilah manusia sosial. Maka dalam rumpun ilmunya pun dibagi-bagi untuk memperjelas bidang kajian serta untuk tujuan efektifitas dan karakter yang spesifikatif. Djaldjoeni mengungkapkan bahwa dalam mengkaji tentang manusia, IPS menggunakan ilmu politik, ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan IPS adalah ilmu yang diorganisasikan secara sistematis dan dibangun melalui penyelidikan ilmiah dan direncanakan.
Selain dari corak keilmuannya yang universal, karakteristik objek kajian IPS yang bisa dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin secara integratif menjadikan IPS dapat difungsikan untuk telaah masalah sosial budaya yang hakikatnya kompleks. Ciri dari pendekatan interdisipliner yang memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu ini memudahkan IPS untuk dijadikan dasar pengembangan upaya-upaya penanggulangan masalah-masalah sosial.
Mengkaji Masalah Kemiskinan
Mengambil sampel ‘kemiskinan’ sebagai salah satu topik permasalahan sosial, disadari betul bahwa isu kemiskinan dan ketidakmerataan ini mempunyai dampak negatif atas pembangunan dan integrasi nasional. Kemiskinan ini merupakan permasalahan sosial yang tidak mudah untuk ditanggulangi. Bahkan pemerintah sejak dekade 1990-an memunculkan kembali program pengentasan kemiskinan dan ketidakmerataan sebagai salah satu isu sentral dari perspektif pembangunan nasional. Ini menjadi bukti belum tuntasnya penanggulangan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah tahun ke tahun.
Ketika mengkomparasikan pengentasan kemiskinan pada dekade 1990-an dengan keadaan sekarang ini, tidak banyak perubahan yang bisa dibanggakan. Salah satu buktinya, hingga sekarang bagian timur wilayah Indonesia masih belum dapat merasakan kemerataan dalam distribusi hampir dalam segala aspek dan kebutuhan. Hal itu bukan terjadi sekarang-sekarang, tetapi sejak dulu. Meski memang mungkin terdapat sedikit kemajuan dalam hal swadaya pangan di wilayah timur sana, tetap saja kemiskinan masih melekat bahkan menjadi identitas yang kontradiktif dari ‘kekayaan’ sumber daya ketimuran yang dimilikinya.
Pada dasarnya keberhasilan program pengentasan kemiskinan, sama seperti program pembangunan yang lain, terletak pada identifikasi akurat terhadap wilayah yang diindikasikan masuk dalam klasifikasi ‘miskin’. Dalam hal ini Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai disiplin ilmu dengan pendekatan interdisiplinernya mendapat ‘porsi’ untuk mengidentifikasi permasalahan kemiskinan dari beberapa sudut pandang keilmuan yang berbeda-beda dalam satu rumpun.


Dimulai dari analisis formulasi kebijaksanaan tadi, yaitu mengidentifikasi siapa yang miskin dan di mana mereka berada. Pertanyaan ini dijawab dengan beberapa pertimbangan berdasarkan objek
kajian ilmu masing-masing.

Masalah kemiskinan dapat dikaji melalui beberapa bidang ilmu yang serumpun dalam IPS.
 


1.                Sudut Pandang Ilmu Politik
Dari kacamata ilmu politik, aspek yang menjadi fokus penelitian ialah mengenai evaluasi kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan kemiskinan serta implementasi daripada aturan-aturan atau kebijakan yang sudah ada. Selain itu dibahas pula mengenai hal ihwal penguasa atau dalam ketatanegaraan kita ialah Presiden beserta jajarannya, dalam menanggulangi permasalahan kemiskinan. Bagaimana kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah dapat memfasilitasi dalam upaya penanggulangan masalah kemiskinan.
2.                Sudut Pandang Ilmu Antropologi
Dari kacamata antropologi, bisa dirumuskan mengenai keterkaitan kemiskinan dengan perilaku manusia yang didasarkan pada studi atas semua aspek biologis manusia dan perilakunya di masyarakat. Dengan mengetahui pola perilaku manusia ini, diharapkan dapat menentukan arah dari upaya yang tepat dalam penanggulangan kemiskinan, sesuai tata pergaulan di masyarakat.
3.                    Sudut Pandang Ilmu Sosiologi
Pada rumpun ilmu Sosiologi, kemiskinan ini bisa dianalisis dari elemen norma, tradisi, keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Misalnya saja mengkaji dari rumusan masalah ‘sejauh mana internalisasi nilai dan norma kemasyarakatan terimplementasikan, hingga menimbulkan cerminan perilaku malas berusaha dan terindikasi menjadi  akar dari kemiskinan?’.
4.                  Sudut Pandang Ilmu Ekonomi
Kemudian dalam bidang ekonomi, sudah jelas bahwasannya kemiskinan ini disebabkan oleh ketidakmerataan distribusi kebutuhan pokok. Selain itu terbatasnya lapangan pekerjaan sebagai akibat tingkat pendidikan yang rendah, yang dimiliki masyarakat, sehingga penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan yang beranjak meningkat.
Salah satu gagasan solutif bisa melalui fungsionalisasi sumber daya yang ada di masyarakat secara swadaya. Akomodasinya dengan menghidupkan usaha-usaha kecil dibantu modal koperasi diiringi dengan bimbingan pengelolaan sistem manajerial secara bertahap.
5.                  Sudut Pandang Ilmu Geografi
Dalam kacamata geografi, kemiskinan ini dapat ditelaah dari segi wawasan dalam ruang dan persepsi relasi antargejala. Geografi yang berisikan pemahaman akan orientasi bumi sebagai tempat tinggal, proyeksinya meliputi semua unsur ruang yaitu arah, jarak, luas, dan bentuk. Kemudian ditambah pengamatan dan pemahaman hubungan antargejala yang terdapat dalam suatu bentang alam. Kemiskinan yang terkotak-kotak di satu wilayah terpencil dan terisolir bisa ditanggulangi dengan mengakar pada konten keilmuan geografi.
6.                Sudut Pandang Ilmu Sejarah
Sementara itu dalam ilmu sejarah, berangkat dari sifat ilmunya sendiri bahwa sejarah pada dasarnya melekat pada tiap benda, tiap mahluk, baik yang hidup dan tidak hidup, tiap fenomena di alam raya ini. Dimensi kesejarahan menuntut manusia untuk selalu melakukan pembaharuan dan berupaya mencapai kemajuan. Dengan sejarah, manusia menjadi tahu dan mengenal siapa diri mereka dan bagaimana mereka sekarang ini.
Kemiskinan sebagai salah satu aspek permasalahan sosial memiliki dimensi proses, peristiwa dan waktu. Dari pengalaman-pengalaman yang telah ada sebelumnya, manusia dapat belajar untuk mengembangkan diri dengan mengupayakan usaha-usaha maksimal. Serta dengan belajar dari proses perubahan dari peristiwa-peristiwa terdahulu untuk mengupayakan penanggulangan masalah kemiskinan ini.
            Objek kajian yang juga tampak bersinggungan dengan permasalahan kemiskinan ini ialah bidang ilmu Psikologi Sosial. Psikologi Sosial ini merupakan satu irisan disiplin ilmu yang terbilang baru dalam rumpun ilmu sosial. Bidang ini mengkaji tentang tingkah laku manusia dalam mengatasi fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosial.
            Dengan adanya Psikologi Sosial ini masyarakat mampu menilai dan memprediksi tingkah laku dalam kehidupan sosial. Masyarakat dapat membentuk pribadi melalui refleksi atas lingkungannya dengan lingkungan lain. Dari pengetahuan akan tingkah laku manusia, kemiskinan dapat semakin jelas terbaca akar permasalahannya. Dengan menggabungkan seluruh sudut pandang dalam rumpun ilmu sosial, permasalahan sosial ini dapat terselesaikan dengan tahapan-tahapan yang sistematis, profesional, dan terintegrasi.
Pendidikan Kewarganegaraan dalam IPS
            Selain dari pada perannya dalam mengentaskan masalah-masalah sosial, IPS ini begitu unik sekaligus kompleks. IPS memiliki tugas berat untuk mempersiapkan dan mendidik individu untuk hidup dengan keseimbangan pemahaman antara ikatan inter dan intrapersonalnya. IPS memerankan peran signifikan dalam mengarahkan dan membimbing manusia Indonesia agar memiliki nilai-nilai dan perilaku demokratis, memahami dan peka terhadap permasalahan sosial di lingkungan sekitar, memahami dan bertanggungjawab terhadap tugasnya sebagai bagian dari masyarakat global yang interdependen.
            Salah satu misi IPS adalah mentransmisikan nilai-nilai keluhuran yang telah menjadi warisan budaya bangsa dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai ini bukan hanya dibelajarkan saja, akan tetapi lebih jauh lagi diharapkan dapat memfasilitasi individu terutama peserta didik untuk memahami, menganalisis, dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut hingga akhirnya peserta didik menjadi individu yang utuh.
            Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah bagian dari batang tubuh ilmu sosial, lebih tepatnya ilmu politik. Ilmu politik ini lebih lanjut memiliki satu objek kajian khusus, yaitu bidang Demokrasi Politik. Sejalan dengan perkembangan kehidupan politik dan ketatanegaraan Indonesia, menurut Azis Wahab (2006), peran Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) ialah untuk menghasilkan karakter warganegara yang baik (to be smart and good citizen). Dengan berkembangnya konten dari Ilmu Pengetahuan Sosial, secara otomatis memperluas objek kajian dari Social Studies sendiri. Sifat dari IPS sendiri bersinggungan erat dengan Pendidikan Kewarganegaraan yang notabene mengemban tugas sebagai pencetak karakter manusia Indonesia.
            Lalu bagaimana cara PKn dengan nafas sosialnya, ikut serta memecahkan permasalahan sosial yang ada dan mengembalikan lagi harkat martabat bangsa Indonesia yang berbudaya luhur?
            Secara sistematis dan konseptual, berawal dari tahap pemahaman, individu mengetahui dan memahami nilai moral yang semestinya diterapkan dalam interaksi sosial. Beranjak ke tahapan penghayatan, setelah itu individu mulai memiliki kecenderungan bersikap, sehingga sampai pada tindakan moral dalam bentuk interaksi sosial yang positif. Tentu disini jelas adalah peran PKn dalam mengembangkan upaya internalisasi nilai moral, dan menghantarkan individu sebagai warga negara pada tahapan-tahapan dalam membentuk interaksi sosial yang baik melalui pembelajaran PKn itu sendiri.
            Merekatkan paradigma mengenai peran IPS dalam membangun harkat dan martabat bangsa, dapat kita amati dari keberagaman sudut pandang rumpun ilmu-ilmu sosial dalam menganalisis masalah kemiskinan. Keseluruhan sudut pandang tersebut dapat diramu dan dikaji secara terintegrasi untuk menghasilkan gagasan solutif dalam penanggulangan masalah kemiskinan. Kemudian lagi sudah jelas peran IPS dengan cabang ilmu Pendidikan Kewarganegaraan-nya, turut andil dalam mencetak individu (warga negara) Indonesia yang berkarakter, berbudaya luhur, selaras dengan jati diri Pancasila sehingga dapat menjadi komponen/elemen yang tidak kalah penting dalam membangun serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.


*) Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2011

Download RPP dan Format Penilaian PKn SMP Kurikulum 2013

Rabu, 05 November 2014

oleh 
Silvia Rahmelia 

Kurikulum 2013 telah bergulir , walau tahunnya sudah terlewat karena saat ini sudah memasuki tahun 2014 tetapi masih banyak yang dibutuhkan untuk mehamai kurikulum 2013. Berikut  terdapat  perangkat pembelajaran PKn di SMP hasil dari Program Praktek Lapangan (PPL) yang dilaksanakan saudari  Silvia Rahmelia seorang mahasiswa angkatan 2011 Jurusan PKn Universitas Pendidikan Indonesia yang bernama Silvia Rahmelia di SMP Negeri 12 Bandung.

Terima kasih kepada saudari Silvia Rahmelia yang telah berbagai dan sharing informasi di blog studi Kewarganegaraan. Bagi Anda  yang bermintas silahkan download file yang berisi perangkat pembelajaran termasuk  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan format Penilaian PKn pada kurikulum 2013 di tingkat SMP. Bagi anda yang membutuhkan sebagai bahan untuk anda mengajar silahkan download dengan mengklik disini.

terima Kasih Semoga Bermanfaat.

*Bagi anda yang berminat untuk berbagai melalui grup Studi Kewarganegaraan, dapat berupa tulisan, opini, perangkat pembelajaran atau bertanya tentang kajian Pendidikan Kewarganegaran silahkan hubungi kami di feriansyach@gmail.com.


Mempersiapkan “Digital Native” menjadi “Warga Negara Digital”

Rabu, 02 Juli 2014

Oleh
Feriyansyah *
Istilah Digital Native merupakan istilah yang digunakan oleh Marc Prensky dalam artikelnya pada tahun 2001 yang berjudulDigital Native dan Digital Immigrant” artikel ini menjadi momentum menyadarkan kita bahwa generasi kita saat ini hiudp di zaman yang berbeda dari saman Ayah dan Ibu nya. Prensky mengatakan “ Our students have canged radically. Today’s Student are no longer the people our educational system was designed to teach (Prensky 2001:1). Siswa kita berubah secara radikal, Dewasa ini siswa tidak lagi menjadi masyarakat dalam sistem pendidikan kita yang didesain untuk diajar. Teknologi digital telah merubah siswa kita saat ini, Sehingga siswa tidak lagi seperti siswa-siswa seperti generasi sebelumnya. Mereka terbiasa hidup sehari-hari dengan berbagai teknologi digital yang dekat dengan mereka. Generasi ini hidup di tengah arus informasi yang mengalir deras.

Digital Native
http://www.trintech.com/wp-content/uploads/2013/10/digital_native.jpg



Penulis teringat pernytaan agung dari Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan “didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup dizaman yang berbeda dari zamanmu”. Jika kita kaitkan dengan artikel Prensky bahwa anak-anak kita saat ini merupakan “Digital Native” atau pemukim digital (penduduk asli digital). Sedangkan para orang tua mereka merupakan para imigran di dunia digital. Orang tua, lembaga pendidikan, dan guru serta berbagai pihak harus menyadari hal ini. Jika Prensky 14 tahun yang lalu telah mengenalkan kita bahwa digital native telah lahir maka  saat ini para pemukim digital ini juga akan tumbuh dan menjadi dewasa.
Digital Native akan menjadi orang dewasa dan membawa budaya digital yang melekat pada diri mereka. Tetapi dalam prosesnya mereka perlu di persiapkan menjadi seorang warga negara digital. Istilah warga negara digital merupakan istilah yang digunakan bagi warga negara yang terbiasa menggunakan teknologi digital dalam kehdiupan sehari-hari bahkan ketika beraktivitas sebagai seorang warga negara. Kemajuan teknologi digital telah menghadirkan ruang-ruang baru bagi warga negara, ruang virtual bagi warga negara tercipta dimana warga negara digital akan terhubung satu sama lain, terhubung dengan pemerintah melalu teknologi digital serta berbagai aktivitas lain.
Disadari atau tidak Digital Native harus dipersiapkan menjadi seorang warga negara digital. Pemukim digital ini harus dipersiap melalui program pendidikan agar mereka memiliki karakteristik yang mereka butuhkan di era digital. Sehingga menjadi pertanyaan besar bagaimana mempersiapkan Digital Native  menjadi seorang warga negara ?
Digital Native  hidup di lingkungan digital yang mengglobal dimana arus informasi dari seluruh dunia dengan mudah di akses. Informasi yang mengglobal ini tentnunya akan membawa berbagai nilai yang berasal dari asal informasi tersebut. Nilai-nilai ini bisa saja tidak sesuai dengan nilai dasar masyarakat kita. Digital native memang generasi yang menglobal tetapi mereka juga harus memiliki identitias yang kuas ketika berinteraksi secara global. Identitias yang kuat lahir ketika sesorang memiliki nilai dasar yang kuat.  Oleh karena itu, Digital Native Indonesia harus memiliki identitas yang dilandasi dengan nilai-nilai dasar (nilai Pancasila ) yang kuat. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius, nilai-nilai dasar spiritual merupakan nilai yang membentuk bangsa ini yang terlembagakan di dalam rumusan Pancasila. Pada akhirnya penguatan nilai dasar bagi pemukim digital Indonesia harus dengan pendekatan digital.bagaimana proses penguatan nilai dasar sesuai dengan kondisi digital native.?
Proses pendidikan khsusunya lembaga pendidikan, orang tua dan guru harus menydari bahwa yang merka didik adalah digital Native  yang lingkungannya berbeda dari lingkungan ketika kita seusia mereka.  Pertama, kita harus mengenali dulu secara mendalam siapa digital Native?  Bagaiaman karkteristiknya, kesehariannya, dan berbagai hal yang melekat pada dirinya, perubahan-perubahan yang mereka alami. kedua, menggunakan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka.
Ketiga, kita harus mempersiapkan diri menjadi orang tua digital dan guru digital, sehingga kita bisa menjadi imgran yang baik “jika kita ingin memasuki dunia digital maka kita juga harus menyesuaikan diri dengan mereka”. Penulis jadi teringat dengan istilah “dimana bumi dipijak disitu langit di junjung” jika kita komparasikan bahwa generasi kita merupakan para immgran digital maka kita harus menyesuaikan dan menjunjung adat istiadat dan kebiasaan hidup para digital native.  Kita tentunya tidak bisa menjadi orang tua yang menjauhkan anak-anak kita dari teknologi digital. Hal itu sama saja kita melakukan konfrontrasi dengan para pemukim digital.
Digital Native  seperti tidak memiliki teladan bagaimana mengelola dunia digital yang mereka huni, karena orang tua mereka tidak memiliki pengalaman itu. Tetapi nilai-nilai dasar merupakan nilai-nilai yang tidak akan berubah bagaimana perubahan kondisi lingkungannya asalkan nilai-nilai itu tetap diyakini dan hidup di dalam diri nya.Oleh karena itu, Digital Native hanya memiliki lingkungan dan dunia yang berubah tetapi nilai dasar yang mereka anut tidak boleh berubah, inilah tugas kita sebagai orang tua dari digital native.  
Akhirnya, disadari atau tidak kita telah hadir di dunia para digital native, mereka hidup dengan cara yang berbeda tetapi mereka tidak boleh tercabut dari akar identitias sebagai bangsa Indonesia yang memiliki nilai spiritual yang menjadi nilai dasar. Digital Native Indonesia harus menjadi digital native yang tetap menjaga identitias ke-Indonesiaannya religius, santun, ramah dan penuh kehangatan, Sehingga akan tercipta dunia digital yang ramah, santun, religius dan penuh kehangatan. Digital Native akan menjadi seorang warga negara digital yang memiliki dilingkupi nilai dasar yang akan menjadi identitas merka ketika beraktivitas didalam jaringan sehingga nilai-nilai dasarharus benar tumbuh dan berkembang di dalam diri para digital native.

*Penulis merupakan Mahasiswa Program Magister Pendidikan Kewarganeagaraan SPs UPI,  yang sedang  melakukan penelitian tentang warga negara digital 

Lorem

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Ipsum

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Dolor

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.