Feriansyach

Dimensi warga negara bukan hanya Hukum dan Politik, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan sebagai warga negara (Feriyansyah)

Warga Negara Digital

Warga Negara Digital Melahirkan Budaya Kewarganegaraan Baru (Feriyansyah)
 

Buku Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan

Kamis, 27 Maret 2014

Buku Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu buku yang cukup fenomenal di kalangan akademis PKn. Buku ini telah menjadi rujukan dasar dari kajian-kajian PKn. Buku ini menyajikan teori-teori dasar dalam Pendidikan Kewarganegaraan.

Buku Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan buah karya dari tangan dingin Prof. Dr. Abdul Azis Wahab, M.A (Ed) dan Prof. Dr. Sapriya, M.Ed. yang merupakan guru besar di Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan.

Akademisi PKn sangat membutuhkan buku ini untuk dijadikan landasan dalam mengembangkan khasanah keilmuan Pendidikan Kewarganegaraan.






TUHAN, ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

Minggu, 09 Maret 2014

TUHAN, ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA
oleh
Feriyansyah
Tuhan, Ilmu, Filsafat dan Agama merupakan keempat hal yang senantiasa menghiasi kehidupan manusia. Sepanjang peradaban manusia, Keempat hal ini menjadi hal yang cukup krusial yang menjadi hal yang terus dibongkar dan dipahami oleh manusia. Dengan memahami keempat hal ini maka manusia akan menjadi manusia yang memiliki pencerahan karena pada hakikatnya keempat hal ini yang menjadikan manusia pantas menjadi pemimpin diatas dunia. Berkiut merupakan pencerahan yang saya dapatkan dari kuliah yang diberikan oleh Prof. Dr. G Venkataraman dari India.
Tuhan
Pencarian manusia atas Tuhan menjadi sebuah cerita panjang yang dialami manusia. Bahkan pencarian manusia akan suatu kekuatan yang besar ini menjadi dasar pemikiran awal tentang alam semesta. Jika kita percaya kepada Tuhan sebagai awal dari segala yang awal. Maka kita akan sepakati bahwa Tuhan menjadi awal dari bermula semuanya kehidupan di alam semesta. Dalam Tulisan ini bisa saja kita sebut sebagai titik awal dari kehidupan manusia.


Ilmu
Selanjutnya, Manusia diberikan amanah oleh Tuhan untuk menjadi seorang pemimpin dibumi ini untuk mengantarkan kemakmuran bagi seluruh alam. Hal ini dalam agama islam kita kenala dengan rahmatan lil Alamin.  Untuk mewujudkan kemakmuran dialam ini manusia dibekali ilmu oleh Tuhan. Ilmu ini yang mengantarkan manusia terus berpikir agar dapat bertahan hidup dan mengelola sumber daya yang ada di bumi.
Gambar 1.2. Tuhan sebagai  sumber dari ilmu manusia.Tuhan memberikan manusia ilmu untuk mewujudkan kemakmuran bagi seluruh alam. Tetapi ilmu belum tentnu mengantarkan manusia kembali kepada Tuhan.

Ilmu hanya memberikan Separuh, dari kehidupan manusia. Ketika manusia hanya memiliki ilmu maka ilmu yang dimiliki manusia tidak akan mewujudkan kemakmuran bagi seluruh Alam. Ilmu hanya akan sampai untuk kepentingan manusia di dunia saja, dan hal ini yang sangat berbahaya ketika manusia-manusia berilmu itu melakukan kejahatan.
Manusia berilmu yang melakukan kejahatan akan lebih berbahaya dari hewan liar yang mengamuk. Manusia berlmu yang jahat akan dapat merusak keseimbangan dunia. Manusia berilmu yang jahat akan merugikan jutaan manusia sekali melakukan kejatahan. Kita bisa lihat fenomena yang terjadi saat ini. Fenomena orang-orang berilmu yang melakukan kejatahan (kejatahan kerah putih). Kejatahan kerah putih merupakan kejatahan yang dilakukan oleh orang-orang yang berilmu. Hal ini merupakan contoh nyata bahwa saat ini lembaga-lembaga pendidikan kita hanya menghasilkan setan-setan yang pintar.
Bagaimana untuk mengatasi munculnya setan-setan yang pintar dari lembaga pendidikan kita? Disinilah muncul bagaimana kita membutuhkan Filsafat agar manusia tahu hakikat yang mendasar dari dirinya. Untuk apa dia hidup? Apa amanah yang diberikan Tuhan kepadanya? 
Filsafat
Filsafat merupakan aktifitas untuk mengajak manusia agar berpikir secara mendalam tentang berbagai hal yang ada pada dirinya dan disekitarnya. Sehingga Filsafat menjadi dasar agar manusia paham tentang hakikat dirinya sebagai pemimpin alam semesta untuk mewujudkan kemakmuran di alam. Jika dulu Filsafat digunakan untuk mencari ilmu agar manusia dapat mengembangkan kehidupannya, Sekarang, Filsafat untukmencari hakikat dari ilmu apakah benar ilmu yang dimiliki manusia untuk kemakmuran di alam ini?.


  
Gambar 1.2. Tuhan sebagai  sumber dari ilmu manusia.Tuhan memberikan manusia ilmu untuk mewujudkan kemakmuran bagi seluruh alam. Tetapi ilmu belum tentnu mengantarkan manusia kembali kepada Tuhan.


Filsafat akan menghantarkan manusia kepada pencerahan bahwa Tuhan merupakan Sumber dari seluruh yang ada di alam Semesta. Filsafat menjadi tahap dari manusia untuk berpikir secara mendasar. Sehingga dalam gambar diatas Filsafat diletakkan di dasar. Tetapi dari dasar itulah akan menghantarkan manusia kembali kepada Tuhan. Pada akhirnya akan menghantarkan manusia kepada agama sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Agama
Apa itu sebenarnya agama ? untuk apa itu agama ? bahkan saat ini agama menjadi sumber konflik yang terjadi ? Proses pencarian




Gambar 1.2. Tuhan sebagai  sumber dari ilmu manusia.Tuhan memberikan manusia ilmu untuk mewujudkan kemakmuran bagi seluruh alam. Tetapi ilmu belum tentnu mengantarkan manusia kembali kepada Tuhan.

Filsafat tadi akan mengantarkan kita bahwa Ilmu yang dilandasi dengan Filsafat akan menghasilkan insan yang bertakwa kepada Tuhan. Agama akan mengantarkan kita titik awal dari kehdiupan kita sebagai manusia. Kita akan mempertanggungjawabkan Ilmu yang kita dapatkan kepada Tuhan. Sehingga manusia akan kembali kepada titik awal sehingga sempurnalah kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki Ilmu selanjutnya paham tetang hakikat ilmu itu,selanjutnya akan mengahantarkan kita menjadi hamba yang taat dan bertakwa kepada Tuhan.
Itulah intisari dari manusia mulai dari penciptaannya, kemudian dia diberikan ilmu, selanjutnya dia akan berpikir sebagai seorang filsuf yang akan menjadikan hamba yang merendah dengan ilmu yang dimiliki. Selanjutnya akan menjadi hamba yang taat melalui agama yang dianutnya. Akhirnya manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan sepanjang hidupnya, terutama ilmu yang dimilkinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seminar dan Loka Karya Nasional Pembahasan Kurikulum S1 PPKn Berorientasi KKNI

Jumat, 17 Januari 2014

Diberitahukan kepada Ketua Prodi PPKn, Dosen / Guru PPKn, dan Praktisi serta Pemerhati PPKn se – Indonesia bahwa AP3KnI mendapat mandat dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti untuk merumuskan kurikulum S1 PPKn. 
Pada  : Hari Sabtu-Minggu, 15-16 Februari 2014, 
Pukul : 08.00 – selesai, 
Tempat di LOJI Hotel Jl. Hasanudin 134 Punggawan, 
Solo (Surakarta).JATENG

Mengingat pentingnya acara ini, maka kami sangat mengharapkan partisipasi dan kehadiran bpk/ibu/sdr sekalian. Mengingat kapasitas ruang yang terbatas, maka mohon konfirmasi kehadiran paling lambat tanggal 7 Februari 2014 melalui Sdr. Danang (085740062058) atau Triyanto (08121501029).

Info Lebih Lanjut dan download Undangan, Leaflet dapat di unduh di :
AP3KNI Jawa Tengah



Membangun Kecerdasan Teknologi (Technological Intelegences) Warga Negara Di Era Digital

Membangun Kecerdasan Teknologi (Technological Intelegences) Warga Negara Di Era Digital

Oleh
FERIYANSYAH
Umat manusia saat ini telah memasuki era kemajuan teknologi yang begitu pesat. Manusia saat ini senantiasa terhubung dengan Gadget yang ada di genggaman mereka dengan terkoneksi oleh jaringan internet. Internet yang merupakan anak kandung dari kemajuan Teknologi terutama teknologi informasi dan Komunikasi, bukan lagi suatu yang sulit untuk di akses bahkan saat ini internet telah berubaha menjadi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Saat ini alat-alat telekomunikasi menjadikan jaringan internet sebagai fitur utama agar dapat terkoneksi dengan sosial media yang populer seperti facebook, twitter, e-mail, dan sebagainya.

Belakangan ini banyak kasus yang timbul awalnya dari dunia maya (Sosial media) yang berdampak besar di masyarakat. Seperti : kasus curhatan Prita di Milis , Video pelecehkan gerakan shalat oleh Siswi SMA yang diunggah di Youtube, suami yang meng-unggah ketika berhubungan suami istri yang dikarenakan dendam dengan mantan istrinya, dan yang terakhir peristiwa seorang mahasiswi yang menunjukkan kemarahannya di twitter dengan men-twet  pernyatakan yang menyinggung sebuah fakultas dikampusnya yang berujung sanksi dari kampus kepada mahasiswi tersebut, selanjutnya foto atau video pribadi yang menyebar di dunia maya diakibatkan kelalaian dan ketidak sengajaan.
Peristiwa-peristiwa di atas sebenarnya disebabkan faktor utama bahwa kecerdasan berteknologi warga negara kita masih kurang. Negara seakan lupa menyiapkan warga negara untuk menghadapi kemajuan teknologi. Padahal Kemajuan Teknologi tidak dapat lagi di hindari oleh warga negara (manusia). Negara sebagai otoritas tertinggi seharusnya membentuk warga negara agar mampu menggunakan teknologi secara cerdas dan bijak. Oleh karena itu, Negara penting untuk membangun kecerdasan teknologi.
Membangun kecerdasan Teknologi (technologi Intelegences) diharapkan dapat ter-integrasi dalam kurikulum nasional. Istilah Kecerdasan Teknologi (Technological Intelegences) pertama kali saya dapatkan dari salah satu kutipan buku Prof. Udin S. Winataputra dan Prof Dasim Budimansyah,  berkaitan dengan Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan di Abad 21.  Beliau menyatakan :
“ Visi – Kurikulum dan Pembelajaran PKn di Abad 21 – pada dasarnya terpusat pada pengembangan “learning intellegence” dalam dimensi-dimensi “Social, cultural. Political, economic, and technological intelligences…” (Winataputra dan Budimansyah 2012:3). 

Dari pernyataan beliau bahwa Warga negara di Abad 21 diharapkan menjadi “Civic Learner” warga negara pembelajar, dengan pengemangan kecerdasan belajar, Globalisasi dan kemajuan teknolgi menjadi hal yang dihadapi  warga negara.  Sehingga, warga negara terutama warga negara muda harus dibekali oleh  Kecerdasan Teknologi (technological Intelegences) untuk menyongsong era digital. 

Pendidikan tidak bisa hanya diam menyambut Perubahan-perubahan yang terjadi karena Ilmu (ilmu pendidikan) selalu tertinggal selangkah dari kondisi saat ini. Sehingga Ilmu Pendidikan harus terus mengkaji bagaimana mempersiapkan warga negara yang mampu berkontribusi di era digital. 

Ketika Warga Negara memiliki Kecerdasan Ber-teknologi tinggi maka peristiwa sebagaimana diatas tidak akan  terjadi lagi. Dengan kecerdasan ber-teknologi maka warga negara secara sadar mampu memilah perbuatan positif yang dilakukan ketika menggunakan teknologi terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi. Warga negara juga dapat memafaat teknologi secara optimal untuk keuntungan dirinya ketika memiliki Kecerdasan Teknologi. 

Kemajuan Teknologi tidak dapat dihindari umat manusia, sehingga yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri kita dan generasi muda untuk siap menyongsong era Digital ini dengan Kecerdasan ber-Teknologi (technological Intelegences). 

Mahasiswa  Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan 
aktif di Permata Sumut Community
www.permatasumut.blogspot.com
Editor " Alan Mubarak ' www.e-educasiana.blogspot.com "
Tulisan ini dipublikasikan juga di 
1. http://e-educasiana.blogspot.com/2013/09/membangun-kecerdasan-teknologi.html
2. http://citizenshipstudycentre.blogspot.com/2013/09/membangun-kecerdasan-teknologi.html

Generasi Z Dalam Perpektif Pendidikan Kewarganegaraan ( To Be Create A Smart and Good Digital Citizens)

Generasi Z Dalam Perpektif Pendidikan Kewarganegaraan 
( Untuk Meciptakan Warga Negara Digital yang Cerdas dan Baik)

Oleh 
FERIYANSYAH

Abstrak

Salah satu perkembangan isu global kontemporer adalah perkembangan teknologi yang kian maju dan modern. Salah satu dampaknya adalah melahirkan generasi baru yang disebut dengan generasi Z. Generasi tersebut tidak lain berasal dari anak-anak hingga orang dewasa. Tetapi yang menarik adalah anak sebagai peserta didik disekolah merupakan bagian dari generasi Z.  Hal ini dikarenakan mereka lahir di era digital dimana jaringan internet bukan lagi hal yang sulit untuk diakses bahkan sudah menjadi kebutuhan. Generasi Z ini merupakan generasi emas yang diproyeksikan sebagai generasi yang hidup ketika NKRI berusia 100 tahun pada tahun 2045.  Sehingga, Generasi Z ini jangan sampai salah mendidiknya karena akan berdampak pada rencana pencapaian rencana Indonesia gold pada tahun 2045 mendatang. Oleh karena itu, PKn memiliki tanggung jawab yang besar mempersiapkan mereka untuk menjadi warga negara yang siap mengambil peran maksimal sebagai warga negara digital. Menjadi suatu keharusan untuk mendidik Generasi  digital atau Generasi Z menjadi warga negara digital yang cerdas dan baik (smart and good Digital Citizens) dalam menggunakan teknologi. Kecerdasan berteknologi tersebut akan menopang kehidupan yang harmonis baik di masyarakat nyata (real) dan di masyarakat digital. Sebagai salah satu dari perkembangan kajian kewarganegaraan di era digital tentang bagaimana mempersiapkan warga negara  memiliki kecerdasan berteknologi (technological Intelegences) agar menjadi warga negara digital yang cerdas dan baik melaui program Pendidikan Kewarganegaraan. Oleh karena itu PKn dapat menjadi sebuah pendidikan disiplin ilmu untuk mempersiapkan generasi Z untuk menjadi warga negara digital yang cerdas dan baik.
Kata Kunci : Pendidikan Kewarganegaraan, Generasi Z, Warga Negara Digital, Masyarakat digital.

Tulisan ini dipublikasi dalam Prosiding : Seminar Nasional Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Implementasi Kurikulum PKn 2013  Diterbitkan oleh Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). ISBN 978-602-8418-26-3

Lorem

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Ipsum

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Dolor

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.